Sabtu, 29 Oktober 2016

TEORI KEPRIBADIAN ERIK ERIKSON (PSIKOSOSIAL)



TEORI ERIK ERIKSON

Erik Erikson merupakan orang pertama yang menemukan istilah “krisis identitas” dan orang yang mengembangkan Teori Kepribadian dari Sigmund Freud. Erikson tidak menyangkal pendapat Freud dan mengenalkan “cara baru untuk melihat sesuatu”. (Erikson, 1963). Teori Pasca-Aliran Freud yang diperkenalkan oleh Erikson lebih menekankan kepada sosial dan sejarah perkembangan kepribadian seseorang, bukan dari sudut pandang psikoseksual seperti yang disampaikan oleh Freud. Erikson menyebutkan bahwa perjuangan psikososial sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Pada masa remaja, perjuangan tersebut disebut krisis identitas, titik balik kehidupan seseorang yang dapat memperkuat atau melemahkan kepribadian seseorang.
            Dalam teori perkembangan psikoanalitis, perhatian utama diberikan kepada lima tahun pertama dan pada perkembangan insting. Dengan demikian, tahap pertama adalah signifikan bukan hanya karena kenikmatan di mulut, tetapi  karena dalam situasi makan berkembang hubungan rasa percaya dan tak percaya antara bayi dengan ibu. Demikian pula, tahap anal adalah signifikan bukan hanya karena adanya perubahan erogenous zone, tetapi juga karena toilet training adalah situasi sosial yang signifikan dimana anak bisa mengembangkan kemandirian
            Menurut Erikson (1950), tahap latensi dan genital adalah periode ketika individu mulai mengerti pentingnya berusaha dan kesuksesan, atau merasakan kelemahan diri dan mungkin juga mengerti tentang dirinya sendiri atau mulai memahami peran-peran yang berbeda yang harus dijalaninya. Menurut Erikson, tugas penting remaja adalah membangun pemahaman identitas ego, yakni berusaha meyakini bahwa cara pandang dirinya memiliki kesinambungan dengan masa lalu dan sesuai dengan persepsi orang lain, dalam berjuang mencari identitas ini mungkin akan menyebabkan remaja bergabung dengan berbagai kelompok dan berusaha mencari tahu tentang pilihan karakter yang tepat.
            Dalam risetnya terhadap proses pembentukan identitas, Marcia (1994) mengidentifikasi empat status individu dalam proses ini. Dalam Identity Achievement, individu membangun pemahaman identitas melalui eksplorasi.Dalam Identity Moratorium, individu berada di tengah-tengah krisis identitas, individu seperti ini dapat melakukan fungsi psikologis tingkat tinggi, sebagaimana yang diindikasikan melalui pemikiran yang kompleks dan penalaran moral dan juga menilai intimasi. Dalam Identity Forecolsure, individu mencapai pemahaman identitas tanpa melalui proses eksplorasi, individu seperti ini cenderung kaku dan sensitif terhadap manipulasi atas harga diri mereka.Identity Difussion, individu tidak memiliki pemahaman identitas atau komitmen. Orang semacam ini amat mudah turun harga dirinya, sering tidak terorganisir pemikirannya, dan memiliki masalah dengan intimasi.
NILAI PENTING PENGALAMAN AWAL
            Teori Psikoanalitis memberikan perhatian besar pada peran peristiwa-peristiwa dalam kehidupan awal bagi perkembangan kepribadian di kemudian hari. Banyak kehidupan orang dewasa yang merupakan pengulangan tema yang di bentuk sepanjang tahap perkembangan awal.Hubungan antara perilaku keterikatan awal dan patologi di kemudian hari, ada dua aspek dari hasio studi yang patut mendapatkan perhatian. Pertama, hubungan tersebut berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Bagi anak laki-laki, klasifikasi keterikatan pada usia satu tahunamat berhubungan dengan patologi pada masa kemudian hari. Di sisi lain, tidak ada hubungan antara keterikatan dan patologi dikemudian hari pada anak perempuan. Kedua, para peneliti menunjukan perbedaan antara upaya mencoba memprediksi patologi dari data tahun awal (prospektif) dengan upaya untuk memahami patologi di kemudian hari berdasarkan kesulitan dalam menjalani keterikatan pada masa awal (retrospektif).
            Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, isu relevan yang berkaitan dengan nilai penting pengalaman usia dini bagi perkembangan kepribadian di masa mendatang adalah bersifat kompleks. Mungkin kita harus mencari pendekatan lebih mendetail ketimbang mencari jawaban hitam putih.Mungkin sebagian karakteristik kepribadian, setelah terbentuk, menjadi lebih resisten terhadap perkembangan dibandingkan yang lain. Peran pengalaman usia dini juga mungkin bergantung kepada intensitasnya, durasinya, dan sejauh mana pengalaman yang berbeda itu terjadi di usia dini dan di kemudian hari. Terakhir, kita dapat melihat perbedaan antara apa yang mungkin terjadi dan pasti terjadi. Teori Psikoanalitis bisa jadi akurat dalam memotret kemungkinan efek dari pengalaman usia dini, khususnya sebagaimana yang tampak dalam berbagai bentuk gangguan psikologis di mana pola hubungan dibentuk pada tahun-tahun awal dan terus dipertahankan dari waktu ke waktu, namun tanpa mempostulatkan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dihindarkan.
Ego dalam Teori Erik Erikson
Erikson mengatakan bahwa ego merupakan kekuatan positif yang menciptakan jati diri atau rasa “saya”. Selain itu, ego juga disebut sebagai pusat kepribadian seseorang. Ego membantu seseorang untuk beradaptasi dengan berbagai konflik dan krisis dalam hidup serta menjaga untuk tidak kehilangan kekuatan individualitas dalam masyarakat yang selalu berkembang. Ego terbentuk dan semakin memiliki kekuatan seiring tumbuh dan berkembangnya seorang individu. Dalam hal ini, Erikson melihat ego sebagai agen pengatur setengah tidak sadar yang menyatukan pengalaman sekarang dan jati diri di masa lalu serta gambaran diri yang diharapkan. Erikson mendefinisikan ego sebagai kemampuan seorang individu untuk menyatukan pengalaman-pengalaman  serta tindakan-tindakan dengan cara yang efektif (Erikson, 1963).
Ada 3 (tiga) aspek ego yang saling berhubungan, yaitu ego tubuh, ego ideal, dan ego identitas. Ego tubuh merupakan ego yang mengacu pada pengalaman-pengalaman yang dialami oleh tubuh seseorang, yaitu cara memandang secara fisik sebagai sesuatu yang berbeda antara individu satu dengan yang lain. Ego ideal merupakan gambaran seorang individu terhadap dirinya sendiri dibandingkan dengan hal yang ingin dicapai diri ideal dan ego ideal bertanggung jawab atas kepuasan atau ketidakpuasan atas semua jati diri seseorang. Yang terakhir, ego identitas yaitu gambaran terhadap peran sosial yang dimainkan oleh seorang individu dalam lingkungan sosialnya. Biasanya ketiga komponen ego ini berkembang pesat pada masa remaja, tetapi tidak semua orang mengalaminya di masa remaja melainkan di tahap kehidupan yang lain.
Erikson mempercayai bahwa ego berkembang dengan menggunakan prinsip epigenetik, yaitu prinsip perkembangan seperti perkembangan embrio atau janin. Maksudnya adalah, ego berkembang sesuai dengan tahapan atau urutan sama seperti perkembangan janin dimulai dengan bentuk yang tidak sempurna tumbuh dan berkembang menjadi sempurna. Satu tahapan muncul dan dibangun berdasarkan tahapan sebelumnya, tetapi tidak menggantikan tahapan sebelumnya.
Tahap-tahap Perkembangan Menurut Erik Erikson
Masa Bayi (Percaya Dasar vs Tidak Percaya Dasar)
Periode yang meliputi setahun pertama dari kehidupan individu. Erikson berfokus pada hal yang lebih luas dari sekedar tahapan oral seperti Teori Freud. Erikson menyatakan bahwa pada masa bayi, seorang individu bukan hanya menerima melalui mulut tetapi dari alat indera lainnya baik rangsangan visual maupun informasi lainnya (sensori-oral). Karena mulai menerima berbagai informasi, maka tumbuh juga  rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar serta kekuatan harapan.
Percaya vs tidak percaya terbentuk dari hubungan interpersonal bayi dengan pengasuh utamanya (biasanya ibu mereka). Rasa percaya dasar akan terbentuk ketika bayi merasa secara konsisten mendengar suara ibu yang ramah dan hangat serta mendapat makanan regular dari ibu. Selain itu, rasa percaya dasar juga timbul apabila bayi menemukan kecocokan kultur dan lingkungan yang sesuai dengan sensori-oral mereka. Sedangkan rasa tidak percaya dasar akan terbentuk ketika bayi tidak menerima lingkungan sosial utama yang positif. Bayi harus mengembangkan kedua sikap baik percaya maupun tidak percaya. Apabila rasa percaya terlalu besar membuat individu mudah ditipu dan rapuh, sedangkan rasa percaya yang terlalu sedikit membuat individu mudah frustasi, amarah, sifat permusuhan, sikap sinis, atau depresi. Erikson mengatakan bahwa rasio rasa percaya dan tidak percaya merupakan hal penting untuk menentukan kemampuan adaptasi seseorang.
Konflik antara rasa percaya vs tidak percaya memunculkan harapan.  Tanpa hubungan perlawanan antara rasa percaya dan tidak percaya, manusia tidak bisa mengembangkan harapan. Bayi harus merasakan lapar, haus, sakit, dan tidak nyaman serta harus mengalami pengalaman menyenangkan dan menyakitkan sebagai pelajaran untuk berharap gangguan di masa depan dapat terselesaikan. Apabila bayi tidak mengalami perlawanan atau antithesis dari percaya vs tidak percaya, mereka akan mengalami penarikan diri  dan dengan sedikit harapan akan menarik diri dari dunia luar. Hal tersebut memicu dan menuju gangguan psikologis serius kedepannya.
Masa Anak Awal (Otonom vs Rasa Malu/Ragu)
            Berlangsung pada tahun kedua dan ketiga dalam kehidupan individu. Apabila Freud berpandangan bahwa kepuasan psikoseksual ada pada anus, sedangkan Erikson berpandangan lebih luas mengenai hal tersebut. Erikson berpendapat bahwa kesenangan pada tahap ini meliputi penguasaan fungsi tubuh lainnya seperti buang air kecil, berjalan, memegang atau mengenggam, dan lainnya. Dalam tahap ini, anak-anak juga mengembangkan rasa kendali terhadap lingkungan personalnya.
            Pada tahap ini, penyesuaian psikoseksual utama pada anak adalah gaya otot-uretral-anal. Maksudnya adalah selain belajar menggunakan toilet, anak juga belajar untuk menjalankan berbagai fungsi yang dimiliki oleh tubuhnya, seperti berjalan, mengeggam, memeluk, berpegangan pada suatu objek, dan lainnya. Hal-hal tersebut berkaitan pada  kerja otot-uretral-anal.
            Masa yang penuh dengan perlawanan antara pengungkapan diri dan pemberontakkan diri memicu konflik psikososial utama pada tahap ini yaitu otonomi versus rasa malu dan ragu. Mereka cenderung bersikeras dengan hal yang baru mereka pelajari dan menemui kultur yang berusaha menghambat pengungkapan diri mereka. Misalnya, orang tua yang marah ketika anak mengotori celana dan mengacaukan makanan yang ada akan menimbulkan rasa malu dan ragu yang memicu tidak berkembanganya standar yang dimiliki sang anak. Mereka akan malu dan ragu untuk menunjukkan dirinya. Kedua rasio antara otonomi dengan rasa malu dan ragu seharusnya condong pada otonomi yang merupakan kualitas sintonik (harmonis) pada masa anak-anak awal. Anak-anak yang terlalu sedikit mengembangkan otonomi akan mengalami kesulitan di tahapan-tahapan selanjutnya.
            Otonomi pada tahapan ini terbentuk atas rasa percaya dasar yang tercapai ketika masa bayi membuat anak memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri serta dapat beradaptasi dengan krisis psikososial yang ringan pada kehidupan awalnya. Sebaliknya, bila anak tidak mencapai rasa percaya dasar akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan gaya otot-uretral-anal selama masa anak-anak awalnya dan hal ini akan menimbulkan rasa malu dan ragu pada anak untuk memiliki keyakinan akan standar dirinya.
            Kekuatan dasar pada masa anak-anak awal adalah keinginan yang besar terhadap kehendak mereka sendiri. Dalam hal ini, banyak keinginan eksplorasi pada diri anak yang berlawanan dengan kehendak orang tuanya. Konflik dasar pada tahap ini terletak pada perjuangan anak akan otonomi dan usaha orang tuanya untuk mengendalikan rasa malu dan ragu pada diri anaknya. Terlalu kecilnya keinginan dan terlalu besarnya dorongan akan terbawa hingga tahapan selanjutnya yaitu kurangnya tujuandan rasa percaya diri.

Masa Anak-anak Tengah (Inisiatif vs Rasa Bersalah)
            Periode usia bermain (3-5 tahun) yang pada teori Freud disebut dengan fase falik. Erikson berpendapat bahwa Oedipus Complex yang terjadi pada masa ini hanya salah satu perkembanagn penting dalam usia bermain. Selain mengidentifikasi orang tua mereka, mereka juga belajar mengembangkan daya gerak, keterampilan bicara, imajinasi, dan keingintahuan (Erikson, 1968).
Pada tahap ini, penyesuaian psikoseksual utama pada anak adalah gaya lokomotor-genital. Seorang anak mungkin ketika bermain memainkan peran sebagai ayah,ibu,istri, dan suami tetapi peran tersebut bukan merupakan ungkapan gaya genital dan merupakan ungkapan berkembangnya kemampuan lokomotor. Ketertarikan anak-anak pada tahap ini akan aktivitas genital juga dibarengi dengan perkembangan daya gerak mereka. Mereka dengan mudahnya melakukan aktivitas berlari, lompat, dan lainnya yang pada tahap ssebelumnya belum bisa mereka lakukan.
Selain aktivitas genital dan daya gerak, pada masa ini anak-anak juga mengalami perkembangan imajinasi yang menuju ke inisiatif berfikir. Banyak hal-hal dalam imajinasi mereka yang ingin dilakukan seperti menikahi ayah atau menikahi ibu.  Akibat dari tujuan yang tabu dan terhambat ini, timbulah rasa bersalah. Konflik antara inisiatif dan rasa bersalah merupakan krisis psikososial utama pada tahap ini. Rasio antara inisiatif dan rasa bersalah harus condong ke kualitas sintonik tetapi inisiatif yang tak terkontrol dapat mengakibatkan kekacauan dan kurangnya prinsip moral pada anak.
Tujuan merupakan kekuatan dasar pada tahap ini. Banyak tujuan yang ingin dibayangkan dan ingin dicapai oleh anak-anak pada tahap ini. Apabila rasa bersalah lebih dominan anak bisa menjadi terlalu terkekang yang merupakan lawan dari tujuan. Usia bermain juga menjadi tahapan dimana anak mulai mengembangkan penggunaan hati nurani dan label benar atau salah yang merupakan “landasan moralitas” bagi anak.
Masa Anak-anak Akhir (Industri vs Rasa Rendah Diri)
            Peiode ini ada pada saat anak berusia sekolah (6-12/13 tahun) yang pada teori Freud ada pada fase laten. Pada tahap ini lingkungan sosial anak berkembang lebih luas bukan sekedar lingkungan keluarga melainkan lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Anak mengembangkan kemampuan komunikasi dan sosial (latensi) mereka dengan orang-orang di sekitar mereka dan kultur yang ada pada lingkungannya. Anak-anak juga mengembangkan keterampilan membaca, menulis, atau aktivitas lainnya yang sekiranya mereka rasa cocok dengan kultur yang ada di dalam lingkungan mereka. Meskipun tahap ini ada pada periode usia sekolah, sekolah yang dimaksud bukan hanya sekolah formal tetapi pelajaran-pelajaran yang didapat dari orang-orang dewasa yang ada di sekitar mereka.
            Krisis psikososial utama pada tahap ini adalah industri versus rasa rendah diri. Industri yang dimaksud adalah kemauan untuk tetap sibuk dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh sekolah dan lingkungannya. Mereka akan mendapat kepuasan dari hasil kerja yang mereka capai. Namun, apabila hasil kerja yang dicapai tidak baik, mereka akan mengalami rasa rendah diri dan merasa tidak kompeten di sekolah. Erikson percaya bahwa manusia dapat mengatasi krisis yang mereka hadapi meskipun mengalami gagal pada tahapan sebelumnya.
            Rasio antara industri dengan rasa rendah diri harus condong kearah industri tetapi rasa rendah diri tidak perlu dihindari. Rasa rendah diri bisa menjadi pendorong seseorang untuk melakukan yang terbaik tetapi juga rasa rendah diri yang berlebihan  dapat menjadi penghambat produktivitas yang dapat dicapai oleh anak.
Remaja (Identitas versus Kebingungan Identitas)
Pada periode dari pubertas hingga masa dewasa muda, merupakan salah satu tahapan perkembangan yang paling krusial karena pada akhir periode ini, seseorang harus mendapatkan rasa ego identitas yang tetap. Walaupun ego identitas tidak dimulai maupun diakhiri selama remaja, krisis antara identitas dan kebingungan identitas mencapai puncaknya selama tahapan ini. Dari krisis identitas versus kebingungan identitas timbul kesetiaan sebagai kekuatan dasar dasar masa remaja.
Pubertas didefinisikan sebagai kematangan genital yang memainkan peranan cukup kecil dalam konsep remaja Erikson. Untuk sebagian orang muda, kematangan genital tidak menampakkan krisi seksual. Akan tetapi, pubertas penting secara psikologis karena memicu pengharapan akan peran seksual di masa mendatang-peran yang secara esensial social dan dapat dipenuhi hanya dengan perjuangan untuk mencapai ego identitas.
Pencarian akan ego identitas mencapai puncaknya selama remaja sebagai anak muda yang berjuang untuk mencari tahu siapa dirinya dan bukan dirinya. Dengan berkembangnya pubertas, remaja mencari peran baru untuk membantu mereka menemukan identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan mereka. Dalam pencarian ini, remaja menarik dari beragam gambaran diri sebelumnya yang telah diterima dan ditolak. Oleh karena itu, bibit identitas mulai bertunas selama masa bayi dan terus tumbuh selama masa kanak-kanak, usia bermain, dan usia sekolah. Lalu diperkuat dengn krisis yang coba diatasi dari konflik psikososial identitas versus kebingungan identitas.
Sebuah krisis tidak harus menandakan ancaman atau malapetaka, melainkan “titik balik, periode krusial akan meningkatnya kerapuhan dan memuncaknya potensi” (Erikson, 1968, hlm.96). Krisis identitas dapat bertahan selama bertahun-tahun dan dapat mengakibatkan kekuatan ego yang lebih kuat atau lebih lemah.
Menurut Erikson (1982), identitas timbul karena dua sumber :
1.      Penegasan atau penyangkalan remaja akan identifikasi masa kanak-kanak, dan
2.      Konteks sosial serta sejarah mereka, yang mendukung konformitas pada standar tertentu.
Anak muda seringkali menyangkal standar tertua mereka, memilih nilai-nilai teman kelompok atau sekawan. Bagaimana pun, masyarakat di mana mereka hidup memainkan peran penting dalam pembentukan identitas mereka.
Identitas digambarkan, baik secara positif maupun negative, sebagaimana remaja memutuskan apa yang mereka inginkan dan mereka yakini, sementara juga menemukan apa yang tidak inginkan untuk menjadi dan apa yang mereka tidak percayai. Seringkali mereka harus menyangkal nilai-nilai dari orang tua mereka dan menolak nilai-nilai teman kelompok, dilema yang menguatkan identitas kelompok.
Kebingungan identitas adalah gejala dari masalah yang mencakup gambaran diri yang terpisah, ketidakmampuan untuk mencapai keintiman, rasa terdesak oleh waktu, kurangnya kontrasi pada tugas-tugas yang harus dilakukan, dan penolakan keluarga atau standar komunitas.
Walaupun kebingungan identitas merupakan bagian yang dibutuhkan dalam pencarian identitas, kebingungan identitas yang berlebih dapat mengakibatkan penyesuaian patologis dalam bentuk kemunduran ke tahapan sebelumnya dalam perkembangan. Kita bisa menunda tanggung jawab kedewasaan dan terombang-ambing tanpa sasaran dari satu perkejaan ke pekerjaan lain, dari pasangan seks satu ke lainnya, atau dari satu ideology ke yang lainnya. Sebaliknya, jika kita mengembangka rasio yang baik akan identitas dan kebingungan identitas, maka kita akan memiliki :
1.      Keyakinan dalam prinsip ideologis,
2.      Kemampuan memutuskan secara bebas bagaimana seharusnya bertingkah laku,
3.      Rasa percaya dari kelompok teman dan orang dewasa yang memberikan saran mengenai sasaran serta aspirasi, dan
4.      Rasa percaya diri akan pilihan pekerjaan saat ini.
Kekuatan dasar yang timbul dari krisis identitas remaja adalah kesetiaan atau keyakinan terhadap satu ideologi. Setelah mencapai standar internal tingkah laku, remaja tidak lagi membutuhkan bimbingan orang tua, namun memiliki rasa percaya diri dalam ideologi agama, politik, dan sosial mereka sendiri. Rasa percaya yang dipelajari saat bayi adalah dasar dari kesetiaandi masa remaja. Anak muda harus belajar mempercayai orang lain sebelum mereka memiliki keyakinan akan pandangan mereka akan masa depan.
Dewasa Muda (Keintiman versus Keterasingan)
Dewasa muda masa dari sekitar usia 19 sampai 30 tahun, tidak terlalu dibatasi oleh waktu, namun dimulai dengan adanya keintiman di awal tahapandan perkembangan generativitas di akhir. Untuk sebagian orang, tahapan ini cukup singkat, hanya mungkin bertahan beberapa tahun. Untuk yang lainnya mungkin hanya beberapa decade. Dewasa harus mengembangkan genitalitas yang matang, mengalami konflik antara keintiman dan keterasingan, serta memperoleh kekuatan dasar cinta.
Banyak dari aktivitas seksual selama masa remaja adalah ungkapan pencarian akan identitas dan harus disediakan oleh diri sendiri. Genetalitas sejati dapat berkembang ketika ia dibedakan dengan rasa percaya yang sama dan berbagi secara stabil kepuasan seksual dengan seseoran yang dicintai. Ia merupakan pencapaian utama psikoseksual terhadap masa dewasa muda dan hanya didapati dalam hubungan intim (Erikson, 1963)
Keintiman adalah kemampuan untuk meleburkan identitas seseorang dengan orang lain tanpa ketakutan akan kehilangan identitas tersebut. Keintiman hanya dapat dicapai ketika seseorang sudah membentuk ego stabil, maka perasaan tergila-gila akan seseorang yang biasa ditemui pada masa remaja bukanlah keintiman yang sebenarnya. Orang yang tidak yakin akan akan identitas mereka sendiri, bisa menarik diri dari keintiman psikoseksual atau mencari keintiman melalu hubungan seksual yang tidak bermakna.
Sedangkan lawan dari keintiman adalah keterasingan yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengambil kesempatan dengan identitas seseorangdengan berbagai keintiman sejati (Erikson, 1968, hlm.137). Sebagian orang memiliki rasa keterasingan karena mereka tidak mampu menerima tanggung jawab orang dewasa, seperti kerja produktif, prokreasi, dan cinta yang matang.
Cinta merupakan kekuatan dasar dewasa muda yang muncul dari krisis keintiman versus keterasingan. Erikson (1968, 1982) mendefinisikan cinta sebagai pengabdian matang yang mengatasi perbedaan-perbedaan anatara pria dan wanita. Walaupun cinta mencakup keintiman, ia juga mencakup keterasingan dalam tingkat tertentu karena tiap pasangan diizinkan untuk mempertahankan identitasnya secara terpisah. Cinta yang matang berarti komitmen, hasrat seksual, kerja sama, persaingan, dan pertemanan. Ini adalah kekuatan dasar dewasa muda yang memungkinkan seseorang untuk berhasil melalui dua tahapan perkembangan terakhir secara produktif.
Dewasa (Generativitas versus Stagnasi)
Masa dewasa yaitu masa dimana manusia mulai mengambil bagian dalam masyarakat dan menrima tanggung jawab dari apapun yang diberikan oleh masyarakat. Untuk sebagian orang, dewasa muda adalah tahapan yang paling lama, dari usia 31 sampai 60 tahun. Masa dewasa ditandai oleh gaya psikoseksual prokreativitas, krisis psikososial generativitas versus stagnasi, dan kekuatan dasar rasa peduli.
Teori psikoseksual Erikson berasumsi bahwa dorongan insting mempertahankan spesies. Dorongan ini adalah lawan dari insting binatang orang dewasa terhadap prokreasi dan merupakan dari generalitas yang menandai masa dewasa muda (Erikson, 1982).
Dewasa yang matang menuntut lebih dari prokreasi keturunan. Ia juga mencakup merawat anak-anak sendiri da juga anak-anak orang lain. Selain itu, ia juga meliputi bekerja secara produktif untuk menyampaikan kultur dari satu generasi ke generasi lain.
Kualitas sintonik masa dewasa adalah generativitas yang didefisinakan sebagai “generasi akan keberadaan baru sebagaimana produk-produk baud an gagasan-gagasan baru” (Erikson,1982, hlm. 67). Generativitas, yang berurusan dengan menetapkan dan membimbing generasi selanjutnya, mencakup prokreasi anak, produksi kerja, dan kreasi hal-hal serta gagasan-gagasan baru yang berkontribusiuntuk membangun dunia yang lebih baik.
Erikson (1982) mendefisinikan rasa peduli sebagai “komitmen meluas untuk merawat seseorang, produk, dan gagasan seseorang yang harus dipedulikan” (hal. 67). Sebagai kekuatan dasar dewasa, rasa peduli timbul dari kekuatan dasar timbul dari kekuatan dasar ego sebelumnya. Seseorang harus memiliki harapan, kemauan, tujuan, kompetensi, kesetiaan, dan cinta untuk merawat orang-orang yang mereka sayangi. Rasa peduli bukanlah tugas atau kewajiban, namun dorongan alamiah yang muncul dari konflik antara generativitas dan stagnasi atau keterpakuan diri.
Usia Lanjut (Integritas versus Keputusasaan)
Tahapan perkembangan kedeplapan dan terakhir adalah usia lanjut. Erikson berusia sekitar 40 tahun ketika ia pertama kali memikirkan konsep tahapan ini dan semena-mena mendifinisikan usia lanjut sebagai periode dari usia 60 tahun sampai akhir kehidupan. Gaya psikososial usia lanjut adalah sensualitas tergenaralisasi, krisis psikososial integritas versus keputusasaan, dan kekuatan dasar kebijaksanaan.
Erikson tidak berkata banyak mengenai gaya kehidupan psikoseksual ini, namun seseorang dapat berkesimpulan bahwa sensualitas tergeneralisasi memliki arti mendapat kesenangan dalam ragam sensasi fisik yang berbeda seperti penglihatan, suara, rasa, bau, berpelukan, dan mungkin rangsangan genital.
Di akhir kehidupan, kualitas distonik akan keputusasaan mungkin akan unggul, namun bagi orang-orang dengan ego identitas yang kuat dan telah mengalami keintiman serta merawat orang-orang dan hal-hal lain, kualitas sintonik integritas akan dominan. Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi, kemampuan untuk mempertahankan rasa “kesayaan” serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan intelektual.
Pertarungan tak terelakkan antara integritas dan keputusasaan menghasilkan kebijaksanaan, kekuatan dasar usia lanjut. Erikson (1982) mendifinisikan kebijaksanaan sebagai “kepedulian terdidik dan terpisah dengan kehidupan itu sendiri dalam menghadapi kematian itu sendiri” (hlm. 61). Manusia dnegan kepedulian terpisah bukan berarti kurang memiliki kepedulian, melainkan mereka menunjukkan minat aktif, namun tidak berhasrat. Dengan kebijak saan yang matang, mereka memptahankan integritas mereka walaupun kemampuan fisik dan mentalnya menurun. Kebijaksaan ditarik dari dan berkontribusi pada pengetahuan tradisional dari generasi ke generasi. Di usia lanjut, manusia memikirkan persoalan pokok, termasuk ketidakberadaan (Erikson, Erikson, & Kivnick, 1986).

Metode Investigasi Erikson
Erikson menyatakan bahwa kepribadian adalah produk sejarah, kultur, serta biologi, dan metode investigasi yang beragam. Ia menggunakan metode antropologi, sejarah sosiologis, dan klinis untuk mempelajari anak-anak, remaja, dewasa yang matang, dan orang usia lanjut. Berikut dua pendekatan yang Erikson gunakan untuk menjelaskan dan menggambarkan kepribadian manusia-studi antropologis dan psikohistoris.
Studi Antropologis
Pada tahun 1937, Erikson melakukan ke Indian Pine Ridge Reservation di South Dakota untuk menyelediki penyebab apatis di kalangan anak-anak Sioux. Erikson (1963) melaporkan pelatihan awal Sioux dari sudut pandang teori psikoseksual yang baru berkembang dan perkembangan psikoseksual. Ia mendapati bahwa apatis adalah ungkapan ketergantungan ekstrem bangsa Sioux yang telah berkembang sebagai hasil rasa percaya mereka pada program pemerintah federal yang beragam. Dahulu mereka adalah pemburu banteng yang pemberani hingga akhirnya mereka kehilangan identitas kelompok mereka dan mencoba setengah hati untuk hidup sebagai petani. Praktik pengasuhan anak di masa lalu adalah untuk menjadikan anak laki-laki sebagai pemburu dan anak perempuan menjadi ibu pemburu. Akan tetapi, itu tidak cocok lagi dengan masyarakat pertanian. Akibatnya, anak-anak Sioux mengalami kesulitan untuk mencapai rasa ego identitas, terutama ketika mencapai usia remaja.
Dua tahun kemudian Erikson melakukan darmawisata yang sama ke Northem California untuk mempelajari bangsa Yurok. Bangsa Sioux dan Yurok memiliki budaya yang sangat luas ragamnya, tiap suku memiliki tradisi pelatihan anak-anak muda mereka yang menjadikan kekuatan masyarakat tersebut. Bangsa Yurok terlatih menangkap ikan, oleh karena itu tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan tidak menyukai perang. Erikson (1963) dapat menunjukkan bahwa pelatihan di kanak-kanak awal konsisten dengan nilai kultur yang kuat dan bahwa sejarah dan masyarakat membantu terbentuknya kepribadian.
Psikohistoris
Psikohistoris merupakan bidang kontroversial yang memadukan konsep psikoanalisis dengan metode sejarah. Freud (1910/1957) menghasilkan psikohistoris bersamaan dengan investigasi terhadap Leonardoda Vinci dan berkolaborasi dengan duta Amerika, William Bullit untuk menulis studi psikologis mengenai presiden Amerika. Woodrow Wilson (Freud & Bullit, 1967). Walaupun Erikson (1975) beranggapan buruk mengenai studi itu, ia menggunakan menggunakan metode psikohistoris tersebut dan memperbaikinya, terutama dalam studinya mengenai Martin Luther (Erikson, 1958, 1975) dan Mahatma Gandhi (Erikson, 1969, 1975). Mereka adalah orang-orang luar biasa dengan konflik hak asasi pribadi yang membutuhkan penyelesaian kolektif akan apa yang tidak dapat deselesaikan secara individual (E. Hall, 1983).
Erikson (1974) mendefinisikan psikohistoris sebagai “studi individual dan kehidupan kolektif dengan metode yang memadukan psikoanalis dan sejarah”. Ia menggunakan psikohistoris untuk menunjukkan keyakinan utamanya bahwa setiap orang adalah hasil masa sejarahnya dan bahwa masa sejarahdipengaruhi oleh pemimpin luar biasa yang mengalami konflik identitas pribadi.
Sebagai pengarang psikohistoris, Erikson percaya ia harus terlibat secara emosional dengan subjek.
Berbeda dengan individu-individu neurotik yang krisis identitasnya berakhir dengan patologi inti. Erikson (1969) menggambarkan perbedaan antara konlik-konflik pada orang-orang hebat, seperti Gandhi dan orang- orang terganggu secara psikologis, “Jadi, ini merupakan perbedaan antara kasus sejarah dan sejarah hidup: pasien, besar ataupun kecil, melemahkan konflik dalam diri mereka tetapi dalam kenyataan sejarah, konflik dalam diri hanya menambah momentum yang sangat dibutuhkan untuk semua usaha manusia super” (hlm.363)
DAFTAR PUSTAKA

    Feist, J., & Feist,G.J. (2014). Theories of Personality (7th ed.). Jakarta:                  Salemba
    Pervin, L.A., Cervone, D., & John, O.P. (2004) Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian (9th ed.). Jakarta: Prenadamedia Group

3 komentar: