Sabtu, 29 Oktober 2016

Hans Jurgen Eyesenk



Hans Jurgen Eyesenck
A.      Biografi Hans J. Eyesenck
Hans Eysenck lahir di Jerman pada tanggal 4 Maret 1916. Ayahnya adalah seorang aktor dan bercerai dengan ibunya saat dia baru berusia 2 tahun. Eysenck kemudian dirawat oleh neneknya. Dia hidup bersama neneknya sampai usia 18 tahun, ketika nazi mulai berkuasa. Sebagai seorang simpatisan Yahudi, terang saja kehidupannya terancam. Dia kemudian pindah ke Inggris guna melanjutkan pendidikanya. Dia menerima gelar doktor di bidang psikologi dari University of London tahun 1940. Selama Perang Dunia II, dia bertugas di Mill Hill Emergency Hospital, yaitu rumah sakit jiwa yang merawat penderita-penderita gangguan jiwa yang terdiri dari para militer bekerja sebagai psikolog di bagian gawat darurat perang. Disinilah berkembang pesat psikiatri sosial. Usai perang dunia kedua selesai dia diangkat menjadi dosen mata kuliah psikologi pada Universitas London dan direktur Departemen Psikologi pada lembaga Psikiatri, yang meliputi Mansley Hospital dan Bethlem Royal Hospital, dan di tempat-tempat tersebutlah kebanyakan research Eysenck dilakukan. Pada tahun 1949-1950 dia datang di Amerika Serikat sebagai guru besar tamu di Universitas California. Pada tahun 1954 dia ditunjuk sebagai guru besar psikologi pada Universitas London.
Pada tahun 1983, Eyesenck pensiun dari jabatannya sebagai profesor psikologi di Institut Psikiatri University of London, dan sebagai psikiatris senior RS Maudsley an Betlehem Royal namun, tetap menjadi profesor emeritus di University of London  sampai meninggal akibat kanker pada 4 September 1997.  Eyesenck memperoleh banyak penghargaan sepanjang hidupnya, seperti Distinguished Contribution Award of the International Society for the Study of Individual Differences pada 1991. APA juga memberikan penghargaan Distinguished Scientist Award (1988), Presidential Citation for Scientific Contribution (1993), William James Fellow Award (1994), dan Centennial Award for Distinguished Contributions to Clinical Psychology (1996).
B.       Pengertian Kepribadian Menurut Eyesenck
Eysenck memberi definisi kepribadian sebagai berikut :
“Personality is the sum-total of actual or potential behavior-patterns of the as determined by heredity and environment;  it originates and develops throught the functional interaction of the four main sectors into which these behavior patterns are or the conactive sector (character), the affective sector (temperament) , and the somatic sector (constitution)”
Corak yang khas pada pendapat Eysenck dinyatakan secara eksplisit tentang “faktor somatis”. Hal yang utama dalam pandangan Eyesenck mengenai tingkah laku adalah pengertian-pengertian sifat (trait) dan tipe (type). Sifat didefinisikan sebagai “ an observed constellation of individual action-tendencies” dengan kata lain sifat hanyalah suatu keajegan yang nampak (dapat diamati) di antara kebiasaan atau tindakan yang diulang. Sedangkan definisi tipe ialah “an observed constellation of syndrome of traits”. Jadi tipe lebih luas daripada sifat dan mencakup sifat sebagai komponennya.
Menurut Eysenck kepribadian adalah keseluruhan pola tingkahlaku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), sektor somatik (constitution).
C.      Pendekatan Eyesenck Terhadap Riset
Pendekatan Eyesenck dicirikan oleh penalaran hipotetiko-deduktif (terbalik dari penalaran induktif Cattell). Artinya dia mulai dari sebuah hipotesis eksperimen yang diambil dari sebuah teori yang sudah ada, lalu dideduksi secara logis prediksi yang bisa dites dari hipotesis tersebut, kemudian mengumpulkan data untuk menentukan apakah prediksi sudah akurat. Pengumpulan sejumlah besar pengukuran dan penggunaan analisis faktor untuk mengidentifikasi sifat-sifat kepribadian yang fundamental, sifat-sifat yang akan kita lihat tersebut diasumsikan memiliki basis-basis genetik dan biologis. Eyesenck kebanyakan  menggunakan analisis faktor diawal risetnya. Dia menggunakan prosedur tersebut untuk mengidentifikasi dan memverifikasi komponen-komponen fundamental kepribadian.
D.      Kompromis Nomotetik-Idiografik Eyesenck
Eyesenck memandang pendekatannya terhadap teori kepribadian sebagai kompromi ilmiah antara metode yang murni idiografik seperti yang disarankan Allport dan metode nomotetik yang digunakan banyak psikolog eksperimen.
E.       Analisis sifat Eyesenck
Temperamen didefinisikan sebagai aspek emosi, motivasi dan kognitif yang tidak berkaitan dengan bakat dari perilaku. Eyesenck tidak memasukkan kecerdasan, kemampuan kognitif atau sifat lain yang disebut bakat di dalam definisinya (Eyesenck,1970;Eyesenck & Eyesenck, 1985) dan sering kali dia menggunakan istilah “kepribadian” dan “temperamen” secara bergantian. Di dalam teori Eyesenck sifat-sifat yang penting relatif permanen memiliki akar biologis yang jelas, dan memengaruhi apa yang disebut pada pola perilaku sekunder yang diperoleh lewat belajar.
F.       Akar Historis Teori Eyesenck
a.    Hipotesi Jung
Jung melihat individu introver sebagai individu penuh refleksi, cenderung menarik diri dan berorientasi ke realitas internal atau subjektif, sedangkan individu ekstraver suka beraktivitas di luar dan berorientasi kepada peristiwa-peristiwa eksternal. Di buku pertamanya, Dimensions of Personality (1947), Eyesenck melaporkan bahwa pasien-pasien psikiatris dideskripsikan oleh dua tipe independen utama atau super faktor yaitu neurotisme (N vs stabilitas) dan ekstraversi (E vs introversi). Jika neurotiknya tinggi maka individu cenderung bersifat cemas, depresi, merasa bersalah, kepercayaan diri rendah dan seterusnya. Bila tingkat ekstraversinya tinggi individu cenderung suka bergaul, bersemangat, asertif dan mencari sensasi. Di buku keduanya, The Scientific of Personality (1952), Eyesenck memberi perhatian kepada perbedaan antara pasien yang ada di rumah sakit dengan individu yang sehat. Ia menyimpulkan bahwa superfaktor yang ketiga, psikotisme (P) harus ditambahkan kepada N dan E untuk melengkapi deskripsi tentang kepribadian. Sifat-sifat yang berkorelasi di dalam superfaktor psikotisme ialah agresivitas, dingin, egosentrik, impuls dan lainnya. Eyesenck dan Eyesenck(1985) menyatakan bahwa, demi membuktikan P,E,N memiliki basis biologi, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu : (1) data harus membuktikan pewarisan atau kontribusi genetik; (2) observasi harusmengonfirmasi sifat-sifat yang sama dengan P,E,N ; (3) bukti P,E,N harus ditemukan di banyak budaya yang berbeda ; dan (4) P,E,N harus terbukti stabil di sepanjang waktu.
Teori Eyesenk tidak berfokus pada perkembangan sifat-sifat selama bayi dan kanak-kanak, namun ia lebih menitikberatkan basis-basis genetik P,E,N. sebuh sikap hanya menyediakan sebuah kecenderungan untuk bersikap dengan suatu cara dan perilaku tidak bisa sekedar muncul tanpa stimulus lingkungan yang tepat. Bagi Eyesenck perkembangan kepribadian diarahkan oleh sifat bawaan genetis maupun dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Sifat kepribadian memengaruhi jenis situasi yang ditemukan bertentangan, dihindari seperti jika kita menikmatidan mencari jenis situasi yang tidak bertentangan karena sifat memandu kita mengarah ke lingkungan tertentu dan menjauh dari lingkungan tertentu juga.
b.   Pengaruh Historis Tambahan
Eyesenck mengapresiasi Hipokrates (460-377 SM) dan dokter Yunani kuno Galen (130-200 SM) karena pengaruh mereka di dalam pemikiran tentang kepribadian selama berabad-abad (Eyesenck&Eyesenck, 1985). Hipokrates yakin manusia terdiri atas empat unsur : bumi, udara, api dan air. Kemudian keempat unsur tersebut diasosiasikan dengan cairan tubuh : bumi dengan empedu hitam, udara dengan empedu kuning, api dengan darah dan air dengan lendir. Galen kemudian mengaitkan pemikiran Hipokrates tersebut dengan temperamen manusia.
·      Jika lebih dominan darah, manusia akan memiliki kepribadian sanguinis yaitu hangat, optimis dan menyenangkan.
·      Jika dominan empedu hitam, manusia akan cenderung berkepribadian melankolis yaitu mudah cemas dan depresi.
·      Jika dominan empedu kuning, cenderung mengekspresikan kepribadian koleris yaitu mudah senang, cepat marah dan suka menegaskan diri.
·      Jika dominan lendir, maka manusia akan memiliki kepribadian flegmatis yaitu lamban, malas dan kalem.
Pandangan Eysenck berhubungan dengan Hipocrates dan Gallen yang membagi empat tipe kepribadian dasar :
·      Tinggi N dan Rendah E          : tipe Melankolis
·      Tinggi N dan Tinggi E            : tipe Koleris
·      Rendah N dan Tinggi E          : tipe Sanguinis
·      Rendah N dan Rendah E       : tipe Plegmatis
G.      Pokok-Pokok Teori Eysenck
Dia tidak membatasi diri pada bidang dan cara yang sudah dipakai oleh ahli-ahli yang lebih dahulu, tetapi menggunakan berbagai metode yang belum dipakai oleh ahli-ahli sebelumnya, yang dipandangnya dapat mengenai sasaran. Dia mengkombinasikan tradisi ahli-ahli psikologi Inggris yang dengan baiknya menggunakan metode kuantitatif dengan studi mengenai gejala-gejala kepribadian dalam rangka psikiatri. Inti pandangan Eysenck dalam psikologi dapat dicari sumbernya pada keyakinanannya bahwa pengukuran adalah fundamental dalam segala kemajuan ilmiah, dan bahwa dalam lapangan psikologi sebenarnya orang belum pasti tentang hal “apa” yang sebenarnya diukur. Jadi, Eysenck yakin bahwa taksonomi atau klasifikasi tingkah laku adalah langkah pertama yang menentukan dan bahwa analisi factor adalah alat yang paling memadai untuk mengejar tujuan ini. Di dalam usaha menggunakan analisis factor ini dia mengembangkan suatu metode, yaitu criterion analysis. Metode ini adalah kombinasi daripadaa proposition testing atau metode hypothetico deductive dengan teknik analisis faktor.
H.      Hierarki Faktor-Faktor Pengorganisasian Perilaku
Kepribadian sebagai organisasi tingkahlaku oleh Eysenck dipandang memiliki empat tingkatan hierarkis, berturut-turut dari hierarki yang tinggi ke hierarki yang rendah:
1.    Hirarki tertinggi : Tipe, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
2.    Hirarki kedua : Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, kumpilan respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
3.    Hirarki ketiga :Habitual Rsponse kebiasaan tingkah laku atau berfikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/fikiran yang berulang-ulang terjadi kalau individu menghadapi kondisi atau situasi yang sejenis.
4.    Hirarki terendah : Spesific Response, tingkah laku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.
I.         Dimensi Kepribadian Eyesenck
Setiap individu memiliki kepribadian yang diwariskan secara genetis, yaitu melalui DNA. Bukti ini diperkuat dengan gagasan mengenai temperamen anak. Temperamen didefinisikan sebagai karakter anak yang telah ada sejak lahir dan merupakan warisan dari kedua orangtua (Papalia, & Olds, & Fredman, 2007). Kepribadian organisme lebih ditentukan oleh faktor keturunan atau hereditas, namun faktor lingkungan juga berkontribusi terhadap kepribadian (Eysenck, 1998). Penelitian korelasional dan eksperimen yang dilakukan oleh Eysenck pada akhirnya melahirkan 3 dimensi kepribadian, yaitu : Psikotisme (Psychoticism), Ekstroversi (Extroversion), dan Neurotis (Neuroticism). Skema dimensi kepribadian Eysenck (1994) dapat dilihat dibawah ini.

 
     Teori kepribadian Eysenck dikenal juga dengan Teori Tiga Faktor (The Three-Factor Theory), yang membagi kepribadian atas 3 dimensi (Pervin, 2005) yaitu ekstraversi(E), neurotisme(N), dan psikotisme(P). Masing-masing tipe merupakan kumpulan dari 9 trait, sehingga total ada 27 trait. Semuanya bersifat bipolar; ekstraversi lannya introversi, neurotisme lawannya stabilita dan psikotisme lawannya superego.
1.    Dimensi Neurotisme (Neuroticism)
Dimensi kepribadian neurotisme yang sebelumnya dikenal dengan dimensi stabilitas emosi-ketidakstabilan emosi (emotional stability -instability). Feist & Feist (2006) menyatakan bahwa dimensi neurotisme memiliki komponen hereditas yang kuat dalam memprediksi gangguan yang dialami oleh individu, dalam hal ini, individu yang memiliki skor neurotisme yang tinggi memiliki kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional terhadap satu situasi dan mereka kesulitan untuk kembali ke keadaan semula sebelum mereka dihadapkan pada situasi yang demikian. Skor neurotisme mengikuti model stress-diatesis(diathesis-stress model) yaitu skor N yang tinggi lebih rentan untuk terdorong mengembangkan ganguan neurotik dibandingkan skor N yang rendah ketika menghadapi situasi yang menekan. Dasar biologis dari neurotisme adalah kepekaan reaksi sistem syaraf otonom (ANS=automatic Nervous System Reactivity). Orang yang ANSnya tinggi pada kondisi lingkungan wajar sekalipun sudah merespon secara emosional sehingga mudah mengembangkan gangguan neurotik. Skala dimensi neurotisme dari Eysenck (1993) dapat dilihat pada skema dibawah ini.
2.    Dimensi Psikotisme (Psychoticism)
Dimensi psikotisme merupakan dimensi yang ditambahkan dari teori asli Eysenck (Feist, 2005). Eysenck menyatakan bahwa dimensi psikotitisme ini memiliki faktor bipolar, yaitu : psikotitisme dan superego (psychoticism – superego). Seperti halnya neurotisme, individu psikotistik bukan berarti psikotik, namun hanya memperlihatkan beberapa gejala yang umumnya terdapat pada individu-individu psikotik (Boeree, 2007). Beberapa gejala yang biasanya ditemukan pada individu-individu psikotistik, di antaranya adalah : tidak memiliki daya respon (recklessness), tidak memperdulikan kebiasaan yang lumrah berlaku, dan ekspresi emosional yang tidak sesuai dengan kebiasaan (inappropriate emotional expression). Pervin (2005) menyatakan bahwa individu yang mendapatkan skor tinggi pada dimensi psikotitisme cenderung cuek (insensitive), memiliki trait agresif, dingin, egosentrik, tak pribadi, impulsive, antisosial, tak empatik, kreatif dan keras hati. Sebaliknya jika skor psikotismena rendah maka memiliki trait merawat/baik hati, hangat, penuh perhatian, akrab, tenang, sangat sosial, empatik, kooperatif, dan sabar.psikotisme juga mengikuti model stress-diatesis (diathesis-stress model).Skala dimensi Psikotisme dari Eysenck (1993) dapat dilihat pada skema dibawah ini.
3.    Dimensi Introvert-Ekstrovert (Introversion-Extroversion)
Eysenck (dalam Pervin, 2005) mengemukakan karakteristik individu ekstrovert ditandai oleh sosiabilitas, bersahabat, aktif berbicara, impulsif, menyenangkan, aktif, dan spontan. Eysenck (dalam Pervin, 2005) menjabarkan komponen extroversi adalah kurangnya tanggung jawab, kurangnya refleksi, pernyataan perasaan, penurutan kata hati, pengambilan resiko, kemampuan sosial, dan aktivitas. Lebih lanjut lagi, Eysenck&Eysenck (dalam Schultz, 2008) mengemukakan bahwa ciri yang khas dari kepribadian ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta, mempunyai banyak teman, membutuhkan teman untuk bicara, dan tidak suka membaca atau belajar sendirian. Individu dengan dimensi kepribadian ekstrovert sangat membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang bahaya, berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, dan biasanya suka menurutkan kata hatinya, gemar akan gurau-gurauan, selalu siap menjawab, dan biasanya suka akan perubahan, riang, tidak banyak pertimbangan (easy going), optimis, serta suka tertawa dan gembira, lebih suka untuk tetap bergerak dalam melakukan aktivitas, cenderung menjadi agresif dan cepat hilang kemarahannya, semua perasaannya tidak disimpan dibawah kontrol, dan tidak selalu dapat dipercaya (Aiken, 1985, dalam Pervin 2005). Menunjukkan daya juang fisik yang tinggi, dapat melaksanakan tugas yang tinggi taraf kesukarannya dengan baik, ramah, impulsif, tidak suka diatur dan dilarang, terlibat dalam aktivitas kelompok, pandai membawa diri dalam lingkungannya, mudah gembira, memiliki keterikatan sosial, dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, bertindak cepat, optimis, agresif, cepat dan mudah meredakan kemarahan, mudah tertawa, tidak dapat menahan perasaannya.
Menurut Eysenck (dalam Pervin, 2005), introvert adalah satu ujung dari dimensi kepribadian introvert–ekstrovert dengan karakteristik watak yang tenang, pendiam, suka menyendiri, suka termenung, dan menghindari resiko. Dimensi kepribadian ini memiliki sifat yang sabar, serius, sensitif, lebih suka beraktivitas sendiri, mudah tersinggung, saraf otonom labil, mudah terluka, rendah diri, suka melamun, dan gugup. Lebih lanjut lagi, Aiken (1985, dalam Hall & Lindzey 2005) mengatakan bahwa individu dengan dimensi kepribadian ekstrovert memiliki toleransi yang tinggi terhadap isolasi/kesendirian, kurang toleransi terhadap keluhan fisik, cenderung melakukan secara baik terhadap tugas yang sederhana/mudah, dan cenderung melaksanakan secara baik tugas yang menuntut kesiap siagaan. Individu yang introvert juga cenderung menjauhkan diri, tidak mudah bergabung dengan orang lain, dan susah mengartikulasikan ide-idenya. Skala dimensi ekstrovert dari Eysenck (1993) dapat dilihat pada skema dibawah ini.

Dimensi Ekstravers-Neurotisme dengan CAL (Cortical Arousal Level) dan ANS (Automatic Nervous System Reactivity):
Introversi
Ekstraversi
Neurotisme
A
D
C
B
Stabilita
 













Subyek
Dimensi
CAL
ANS
Simptom
(A)
Introver-Neurotik
Tinggi
Tinggi
Gangguan psikis tingkat pertama
(B)
Ekstraver-Neurotik
Rendah
Tinggi
Gangguan psikis tingkat kedua
(C)
Introver-Stabilita
Tinggi
Rendah
Normal introvers
(D)
Ekstravers-Stabilitas
Rendah
Rendah
Normal ekstravers

Keterangan :
A adalah orang introvert-neurotik (ekstrim introvers dan ekstrim neurotisisme). Orang itu cenderung memiliki simpton-simpton kecemasan, depresi, fobia, dan obsesif-kompulsif, disebut mengidap gangguan psikis tingkat pertama (disorders of the first kind).
B adalah orang ekstravers-neurotik. Orang itu cenderung psikopatik, kriminal, atau mengidap gangguan psikis tingkat kedua (disorders of the second kind).
C adalah orang normal yang introvers; tenang, berpikir mendalam, dapat dipercaya.
D adalah orang yang normal-ekstravers; riang, responsif, senang bicara/bergaul.
J.    Pembentukan Kepribadian
     Eyesenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan traitekstraversi, neurotisme dan psikotisme (juga kecerdasan). Eyesenck juga berpendapat, bahwa semua tingkah laku yang tampak-tingkah laku pada hirarki kebiasaan dan respon spesifik –semuanya(tingkah laku neurosis). Eyesenck berpendapat inti dari fenomena neurotis adalah reaksi takut yang dipelajari (terkondisikan). Hal itu terjadi saat satu atau dua kali stimulus netral diikuti dengan perasaaan sakit/nyeri fisik maupun psikologis. Sekali kondisioning ketakutan atau kecemasan terjadi, pemicunya akan berkenbang bukan hanya terbatas pada objek atau peristiwa asli namun ketakutan/kecemasan itu juga dipicu oleh stimulus lain yang mirip dengan stimulus asli yang dianggap berkaitan. Setiap kali orang menghadapi stimulus yang membuatnya merespon dalam bentuk usaha menghindar atau mengurangi kecemasan, menurut Eyesenck orang itu menjadi terkondisi perasaan takut/cemasnya dengan stimuli baru yang dihadapinya. Menurut Eyesenck, stimuli baru begitu saja dapat dikaitkan dengan stimuli asli, sehingga orang mungkin mengembangkan cara merespon stimuli yang terjadi akibat adanya stimuli itu. Jika tingkah laku itu diperoleh dari belajar, logikanya tingkah laku tersebutjuga bisa dihilangkan dengan belajar. Eyesenck memilih model menangani tekanan psikologis yang dipusatkan pada pengubahan tingkah laku dengan mengembangkan pemahaman mendalam terhadap konflik di dalam jiwa.
K.      Asesmen Kepribadian
     Diantara instrument-instrumen yang pernah dikembangkannya, ada empat inventori yang pengaruhnya luas, dalam arti dipakai oleh banyak pakar untuk melakukan penelitian atau untuk memahami klien maupun dalam arti menjadi ide untuk mengembangkan tes yang senada
a.    Maudley Personality Inventory (MPI), mengukur E dan N dan korelasi antara keduanya.
b.    Eyesenck Personality Inventory (EPI), mengukur E dan N secara independen.
c.    Eyesenck Personality Questionnair (EPQ), mengukur E,N,P,(merupakan revisii dari EPI, tetapi EPI yang hanya mengukur E dan N masih tetap dipublikasikan).
d.   Eyesenck Personality Questionnair-Revised (EPQ-R) revisi dari EPQ.
L.       Metoda Penelitian
Seperti teori traits, teori Eyesenck menawarkan variabel-variabel yang mudah dikembangkan menjadi difinisi operasional, sehingga memungkinkan dilakukannya penelitian yang aplikatif. Eyesenck mengembangkan metoda analisis kriterion (criterion analysis). Pada metoda analisis faktor tradisional, peneliti langsung menusun seperangkat alat ukur yang meliputi seluruh ranah penelitian dengn harapan analisis faktor nanti akan mengungkap latar belakangnya. Sedangkan analisis kriterion dari Eyesenck mengharuskan peneliti mulai dari pengembangan hipotesis mengenai spesifikasi variabel latar belakang yang akan diteliti, baru kemudian menyusun seperangkat alat ukur yang dirancang untuk mengungkap faktor-faktor yang dihipotesiskan. Responden sekurang-kurangnya dua kelompok, yang diduga memiliki perbedaaan tingkat kepemilikan variabel. Kelompok dengan tingkat kepemilikan variabel yang berbeda tersebut disebut kelompok criterion, dan analisis faktor yang melibatkan kelompok kriterion disebut analisis kriterion. Membandingkan skor dua kelompok tersebut dapat dipakai untuk menganalisis sensitivitas item tes yang pada gilirannya akan menghasilkan pengukuran trait secara valid dan reliabel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar