Sabtu, 29 Oktober 2016

ALIRAN PSIKOLOGI SUFI



DEFINISI DAN SEJARAH
Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (berbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.
Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.
Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sanga lah membingungkan.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata “beranda” (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik. Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figaur lain seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah
Beberapa definisi sufisme:
     Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
     Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam (Dr. C.B. Van Haeringen).
Pendapat yang mengatakan bahwa sufisme/tasawuf berasal dari dalam agama Islam:
     Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)[4]
     Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha’rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: “Jalan para sufi dibangun dari Qur’an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur’an, sunnah, atau ijma.” [11. Sha’rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.][5]
     Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (Prof.Dr.H.Abubakar Aceh).
     Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)[6]
     Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan “Sufi”. Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha” – At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)[7]
Dengan munculnya sufi seperti ini, manusia bisa mengaplkasikannya pada kehidupan sehari-hari. Bagaimana mentransformasikannya ke hati, diri, dan jiwa.

Tasawuf dibagi menjadi  tiga  kategori yaitu Tasawuf Akhlaqi, Tasawuf Amali, dan Tasawuf Falsafi.   Tasawuf akhlaqi adalah ajaran tasawuf yang lebih menekankan kepada penggunaan tasawuf sebagai instrument untuk melakukan kebaikan-kebaikan di dalam kehidupan dalam kaitannya dengan hablum minallah dan hablum minan nas. Di dalam tasawuf ini,  yang dipentingkan adalah membangun perilaku yang berdasarkan atas akhlak mahmudah atau akhlak terpuji. Tasawuf akhlaki merupakan ajaran tasawuf yang mengajarkan tentang perilaku luhur atau akhlak al karimah. Untuk mencapai tujuan ini, maka seseorang harus melakukan mujahadahriyadhah dan muraqabah, sehingga dimungkinkan untuk diberi kemampuan  menyerap akhlak Allah.
Tasawuf ‘amali adalah ajaran tasawuf yang lebih menekankan kepada amaliyah  yang baik dalam ibadah kepada Allah. Di dalamnya ditekankan  bagaimana melakukan hubungan dengan Allah dalam ibadah dan dzikir atau wirid yang terstruktur dengan harapan memperoleh ridla, kedekatan dan kelezatan bersama Allah swt. Tasawuf Amali merupakan kelanjutan dari tasawuf akhlaki dan penajaman. Tasawuf ‘amali merupakan tasawuf yang mengedepankan mujahadah, dengan menghapus sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu untuk “menyesuaikan diri”  dan menghadap total dengan segenap esensi diri hanya kepada Allah SWT. Konsep syari’attariqat dan haqiqat atau tahallitakhalli dantajalli adalah bagian dari konsepsi tasawuf ‘amali.
Tasawuf falsafi merupakan tasawuf yang di dalamnya terdapat corak pemahaman keagamaan yang esoteric berbasis pada “kemenyatuan” hamba dengan Tuhannya yang disebut wahdat al wujud (A. Khudlori Sholeh) atau di dalam istilah Jawa disebutmanunggaling kawulo  Gusti.
Dalam perkembangannya, tasawuf akhlaki dan ‘amali  memperoleh lahan subur di dalam kehidupan masyarakat. Tasawuf falsafi hampir-hampir tidak berkembang disebabkan oleh stereotipe tentang tasawuf falsafi yang dianggap menyimpang. Tasawuf akhlaqi dan amali jika bergabung akan lebih menjamin lahirnya karakter yang kuat dan hakiki, bahkan dapat memberi pengaruh pada lingkungannya tanpa mampu dipengaruhi oleh kepribadian lain yang kontra produktif terhadap karakter universal.





STRUKTUR KEPRIBADIAN
A.    QALB
Qalb atau kalbu atau hati yang dimaksudkan adalah hati spiritual. Cita-cita para sufi dari hati adalah untuk menumbuhkan hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan kecerdasan hati. Qalb (fitrah ilahiyah) sebagai aspek supra-kesadaran manusia yang mmiliki daya emosi (rasa)
Jika mata hati terbuka maka kita dapat melihat segala sesuatu yang tampak palsu dari luar dan jika telinga hati terbuka maka kita akan mampu mendengar suatu akan kepalsuan dari ucapan seseorang. Cinta adalah dasar disiplin spiritual sufi lainnya, sedangkan rumah dari cinta adalah hati.
Adapun tingkatan qalb dari tiap manusia berbeda, syakni dibagi menjadi tiga tingkatan:
1.      Hati yang labil atau belum mantap (qalb)
Kondisi hati dalam tingkatan ini biasanya senantiasa dihiasi oleh perasaan ragu-ragu, was-was, dan sering berburuk sangka. Hati ini merupakan sasaran empuk yang menjerumuskan manusia pada hal yang negatif karena tidak memiliki pendirian dan prinsip hidup yang jelas.
2.      Hati yang telah sadar (shadr)
Hati yang dimaksud adalah hati yang telah  dapat menerima kebenaran Allah SWT, sehingga hati itu terlepas dari himpitan, kbingungan, was-was, dan ragu-ragu tentang kebenaran-kebenaran-Nya
3.      Hati yang telah kokoh dan mantap (fu’ad)
Fu’ad dimiliki oleh mereaka yang telah mencapai derajat jiwa rabbani. Apa yang ditampakan oleh hatinya, dirasakan dan diilhamkan dalam hatinya tidak ada kebohongan dan tipu daya, sebab hati itu melihat dalam bimbingan cahaya ketuhanan yang masuk kedalam hati itu.

B.     AKAL
Akal (fitrah insaniyah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi. Akal adalah daya berpikir yang ada dalam diri manusia serta mengandung arti berpikir, memahami, dan mengerti.
Akal sebagai daya berpikir yang terdapat di kepala dibagi dua, yaitu akal praktis dan akal teoritis. Akal praktis adalah akal yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat. Sedangkan akal teoritis menangkap arti-arti murni, yaitu arti-arti yang tidak terdapat dalam materi, seperti Tuha, ruh, dan malaikat. Akal praktis memusatkan diri pada alam materi, sedangkan akal teoritis sebaliknya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian pada alam immateri.
Sebagaimana halnya dengan qalb, akal juga memiliki tingkatan-tingkatan, apabila dilihat dari hakikat dan kerjanya. Sehubung dnagn itu, akal manusia dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:
1.      Akal Awam
Yaitu akal yang dimiliki oleh kebanyakan orang atau pada umumnya. Kerja akal pada tingkat ini sangat bersifat normatif dan trbatas menurut apa adanya, belum dapat memahami dibalik apa adanya.
2.      Akal Khawas
Yaitu akal yang dimiliki oleh para intelektual, ulama, dan pemikir. Akal pada tingkat ini telah terlatih berpikir dengan baik dalam memahami objek-objek apa saja, secara sistematis dan metodologis. Dapat disebut juga sebagai akal ilmiah atau filosofis.
3.      Akal Khawas bil Khawas
Yaitu akal yang dimiliki oleh para nabi, rasul, dan ahli waris mereka (auliya) Allah. Daya berpikir pada tingkatan ini bukan melalui usaha sebagaimana pada tingkatan awam dan khawas, akan tetapi tingkat akal ini merupakan anugrah  dan karunia Allah atas ketaatan dan ketakwaan hamba-Nya. Tingkatan akal ini dapat disebut juga akal Ilahiyah.

C.    NAFS
Nafs atau diri kadang diterjemahkan sebagai ego/ jiwa. Nafs merupakan aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang memiliki daya konasi. Istilah nafs dalam psikologi sufi lebih cenderung terhadap sesuatu yang negatif. Nafs bertemat diantara jasad dan ruh sehingga mencakup sisi-sisi materil dan spiritual. Pada awalnya manusia akan cenderung tertarik kepada duniawi. Namun setelah bertransformasi, nafs akan lebih tertarik terhadap tuhan dibandingkan dengan duniawinya.
Tingkat dasar dari nafs adalah tirani yang mendorong manusia untuk menjauh dari spiritual untuk menyakiti orang lain. Menurut psikolog, sufi dan filsuf, tirani merupakan akar dari distorsi pemikiran dan pemahaman serta sumber bahaya yang terbesar bagi diri kita sendiri maupun orang lain.
Disisi lain, tingkatan nafs tertinggi adalah nafs yang suci, yakni nafs yang bagaikan cahaya illahi tanpa satupun noda cacat terkandung didalamnya. Nafs yang ini hanya dimiliiki oleh rasul dan nabi.
Nafs dalam manusia juga memiliki tingkatan. Berikut ini tingkatan nafs:
1.      Nafs Tirani
Nafs tirani merupakan nafs terendah yang ada dalam diri manusia. Ia berada jauh diluar kesadaran manusia. Nafs ini cenderung memerintahkan manusia untuk melakukan hal negatif, namun tidak jarang pula tidak ada gerakan dalam diri individu itu sendiri untuk memberontak atas nafs tirani. Orang yang memiliki nafs ini juga dapat melakukan kegiatan keagamaan, namun hal itu ia lakukan bukan karena untuk melaksanakan perintah dari tuhannya melainkan untuk mendapatkan penghargaan semata.
Kecerdasan yang ia lakukan hanya untuk menambah harta, kekuatan, kekuasaan, tanpa melibatkan tuhan didalamnya. Ia tidak akan takut akan dosa ataupun merasakan kesalahan ketika melakukan sesuatu, karena dalam dirinya tidak terdapat moral batiniyah.
Nafs tirani menginginkan orang lain untuk dapat menyukai, mengagumi, bahkan tunduk pada diri kita. Hal ini lebih buruk bila dibandingkan dengan membunuh seseorang, karena ia mengakar dalam jiwa dan hal ini akan terus berlanjut tanpa batas kecuali jika ia telah sadar bahwa ia telah terbawa oleh nafsunya sendiri.  Banyak psikolog yang tidak dapat menganalisa penyakit nafs karena pada dasarnya dalam diri mereka juga telah melekat nafs yang telah mengakar dalam jiwa.

Cara menangani nafsu tirani :
·         Menurut madzhab Malamatiyyah adalah menghindari untuk mendekati ketenaran dan menjauhi perilaku ataupun penampilan yang akan menghadirkan pujian ataupun perlakuan istimewa. Hal ini dilakukan karena sampai kapanpun nafsu tirani tidak akan hilang, yang dapat kita lakukan adalah dengan membuatnya tertidur dan jangan sampai nafs tirani tersebut terbangun. Mungkin manusia dapat menyombongkan dirinya bahwa ia telah dapat menguasai kesombongan, kebanggaan atas dirinya. Namun pada dasarnya, nafs tirani dapat saja terbangun tanpa ia sadari. Dan langkah akhir yang perlu dilakukan adalah dengan mentransformasi diri. Nafs tirani memang tidak mudah untuk dihindari. Bahkan terkadang banyak orang yang enggan untuk meninggalkan nafs ini karena takut bahwa kehidupan lamanya adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan gaya hidupnya yang baru. Ketakutan ini tidak akan hilang dan membawa perubahan hingga ia sendiri mencoba untuk melakukannya dan yakin bahwa pertolongan tuhan akan datang kepadanya.
·         Menurut Syekh Nurbkhs yang juga seorang psikiater, nafs tirani tidak dapat dihancurkan. Menghacurkan nafs tirani sama saja menghancurkan diri kita sendiri. Kita dapat mentransformasikan kecenderungan negatif yang ada dalam nafs tirani menjadi sesuatu yang positif. Misalnya kekikiran diubah menjadi kedermanwanan, kemarahan diubah dengan pengertian. Selain itu, kita juga dapat menyucikan hati dan membuka hati dengan mengingat tuhan.

2.      Nafs Penyesalan
Orang yang telah mengingat tuhannya dan mendapatkan cahaya dari tuhannya akan merasakan penyesalan terhadap dosa yang telah ia lakukan. Bagaikan pecandu narkoba yang sadar akan dampak candu yang ditimbulkan dari obat-obatan tersebut, ia tidak hanya membutuhkan kesadaran saja, melainkan butuh pengobatan untuk menghilangkan rasa candunya.

3.      Nafs Yang Terilhami
Pada tingkatna nafs ini, manusia mulai menikmati meditasi, berdo’a, dan kegiatan spiritualnya. Ia mulai menyadari betapa cintanya ia kepada tuhannya, dan betapa tuhan lebih mencintai dirinya daripada ia mencintai tuhannya. Sifat sifat tingkat ini adalah kearifan, qanaah, tawakkal, dan taubat. Orang yang mencapai tingkat nafs yang terilhami ini dapat mendengarkan kata hati nurani mereka. Bahkan bagi para darwis ataupun sufi, mereka dapat mendengar kata hati nurani gurunya.
Namun dalam tingkat ini, nafs masih tergolong rapuh. Ia masih mudah untuk goyah pada nafs tirani, dan tergoda akan keinginan untuk penghargaan, pujian dan kemunafikan atas penyesalan yang ia lakukan.

4.      Nafs Yang Tenteram
Sifat-sifat yang ada pada tingkatan ini adalah keyakinan terhadap tuhan, perilaku baik, kenikmatan spiritual, pemujaan, rasa syukur, dan kepuasan hati. Pada tingkatan ini, manusia merasakan puncak spiritual. Ia merasakan kepuasan dan teramat mensyukuri atas segala sesuatu yang diberikan tuhan terhadapnya. Hal ini terwujud karena rasa cinta terhadap tuhan ang teramat dalam. Sehingga apapun yang diperintahkan tuhan merupakan suatu titah yang harus ia jalankan tanpa ada keluhan. Bagaikan cinta seseorang terhadap orang yang ia cintai. Apapun yang diinginkan oleh orang yang ia cintai pasti akan ia lakukan dengan senang hati.

5.      Nafs Yang Rida
Pada tingkat nafs rida, Seseorang tidak hanya mensyukuri atas rezeki atau kenikmatan yang diberikan terhadapnya saja melainkan ia juga menyukuri dan rida atas cobaan yang diberikan tuhan kepadanya. Ciri-ciri dari tingkatann ini adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat terhadap tuhan. Keajaiban disini adalah terkabulnya do’a yang diinginkan oleh seorang hamba terhadap rabbnya.

6.      Nafs Yang Diridhai Tuhan
Pada tingkatan ini, manusia menyadari bahwa kekuatan untuk bertindak datangnya dari tuhan.

7.      Nafs Yang Suci
Pada tingkatan ini, tidak ditemukan ego ataupun nafs, masa ini adalah waktu ketika seseorang telah melampaui arti dari dirinya, masa ketika seseorang merasakan telah menyatu dengan tuhannya. Inilah masa dimana seseorang bagaikan mati sebelum mati. Untuk mencapai ini, seseorang harus menghilangkan rasa aku yang ada dalam dirinya seakan akan apapun yang ia lakukan bukan karena dirinya, melainkan yang ada hanyalah tuhan.

TIPE KEPRIBADIAN
Kepribadian menurut sufi adalah integrasi sistem qalb, akal, dan nafs manusia yang menimbulkan tingkah laku. Ketiga komponen ini berintegrasi untu membentuk sebuah perilaku dan bekerjasama seperti satu tim yang berpusat di kalbu. Namun, dalam kondisi khusus, masing-masing komponen berebut saling berlawanan, tarik-menarik, dan saling mendominasi untuk membentuk sebuah perilaku. Kondisi khusus ini terjadi apabila tingkah laku yang diperbuat memiliki sifat-sifat ganda yang bertentangan.
Masing-masing komponen memiliki bagian dalam pembentukan kepribadian, walaupun salah satu bagiannya dominan. Abd al-Mujin membagi tipe kepribadian berdasarkan komponen pembentuk sebagai berikut:
1.      Kepribadian Muthmainnah
Kepribadian ini didominasi oleh kalbu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan daya nafsu (15%). Kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mndapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya menjadi tenang.
Kepribadian muthmainnah terbagi menjadi tiga jenis keprbadian:
a.       Kepribadian muslim yang memiliki enam bentuk kepribadian: rabbani atau ilahi, maliki, qurani, kepribadian rasul, yawm akhiri, dan taqdiri
b.      Kepribadian Muslim: syahadatain, mushali, shaim, muzakki, dan haji
c.       Kepribadian Muhsin, yang memiliki multibentuk kepribadian
2.      Kepribadian Lawwamah
Tipe kepribadian ini didominasi oleh daya akal (40%) yang dibantu oleh daya kalbu (30%) dan daya nafsu (30%). Kepribadian yang telah memperoleh cahaya kalbu, lalu bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya antara dua hal. Dalam upaya itu, kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk disebabkan olh watak gelapnya, anmun kemudian diingatkan oleh nur ilahi, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya bertaubat dan beristighfar.
3.      Kepribadian Amarah
Sedangkan kepribadian amarah didominasi oleh daya nafsu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan kalbu (15%). Kepribadian ini cenderung mengejar pada tabiat jasad dan mngjar prinsip-prinsip kenikmatan. Ia menarik kalbu manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela.





DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzakiey, Hamdani. B. (2006). Psikologi kenabian. Yogyakarta: Penerbit Daristy.
An-Najar, Amir. (2004). Psikoterapi sufistik dalam kehidupan modern. Jakarta: Penerbit Hikmah Kelompok Mizan.
Franger, Robert. (2014). Psikologi sufi. Penerjemah Hasmiyah Rauf.  Jakarta: Penerbit zaman.
Munir, Abdul. (2013). Paradigma Tasawuf dalam pembentukan karakter. Diunduh dari http://bdkbanjarmasin.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=109