Selasa, 25 Oktober 2016

TEORI KEPRIBADIAN CARL GUSTAV YUNG



PSIKOLOGI ANATIKAL
         Jung mengemukakan teori kepribadian bersifat racial atau phylogenic. (Filogenik : evolusi genetika yang terkait dengan sekelompok makhluk hidup. Asal muasal kepribadian secara filogenik berada di keturunan, melalui jejak ingatan dari pengalaman masa lalu ras manusia). Dasar kepribadian bersifat archaic, primitive, earth mother, child, wise old man, dan anima, semuanya menjadi predisposisi bagaimana orang menerima dan merespon dunia.
STRUKTUR KEPRIBADIAN
       Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkahlaku, kesadaran dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik.
Kepribadian disusun oleh sejumlah sistm yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran; ego beroperasi pada tingkat dasar, kompleks beroperasi pada tingkat taksadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat taksadar kolektif.
Kesadaran (Consciusness) dan Ego
      Consciousness muncul pada awal kehidupan, bahkan mungking sebelum dilahirkan. Menurut Jung, hasil pertama dari diferensiasi kesadaran itu adalah ego. Sebagai organisasi kesadaran, ego berperan penting dalam menentukan persepsi, fikiran, perasaan dan ingatan yang bisa masuk ke dalam kesadaran. Tanpa seleksi ego, jiwa manusia akan menjadi kacau karena terbanjiri oleh pengalaman yang semua bebas masuk ke kesadaran.
Taksadar Pribadi (personal Unconsious) dan Kompleks (Complexes)
      Pengalaman yang tidak disetujui ego untuk muncul ke sadar tidak hilang, tetapi disimpan dalam personal unconscious, sehingga taksadar pribadi berisi pengalaman yang ditekan, dilupakan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar.
Di dalam taksadar pribadi, sekelompok idea mungkin mengorganisir diri menjadi satu, disebut complex. Jung menemukan kompleks ini melalui risetnya dalam asosiasi kata.
Orang dikatakan mempunyai kompleks kalau orang itu jenuh (preoccupied) dengan sesuatu yang mempengaruhi hampir semua tingkah lakunya. Kompleks mempunyai inti, yaitu inti kompleks yang bertindak sebagai magnet menarik atau mengkonsentrasikan berbagai pengalaman kearahnya. Inti dan unsur yang terkait dengannya bersifat tak sadar, tetapi kaitan-kaitan tersebut dapat dan sering menjadi sadar.
Faktor penyumbang timbulnya kompleks yang paling dalam, yaitu taksadar kolektif.
Taksadar Kolektif (Collective Unconscious)
      Disebut juga transpersonal unconscious, konsep asli Jung yang paling controversial; suatu sistem psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh. Taksadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang diwariskan oleh leluhur, bail leluhur dalam wujud manusia maupun leluhur pramanusia atau binatang. Ingatan yang diwariskan adalah pengalama-pengalama umum yang terus menerus berulang lintas generasi, bukanlah memori atau fikiran yang spesifik, tetapi lebih sebagai predisposisi (kecenderungan untuk bertindak) atau potensi untuk memikirkan sesuatu.
Taksadar kolektif merupakan pondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Diatasnya dibangun ego, taksadar pribadi, dan pengalaman individu. Isi utama dari taksadar kolektif adalah arsetip, yang dapat muncul ke kesadaran dalam wujud simbolisasi.
Arsetip (Archetype)
      Taksadar kolektif berisi image dan bentuk fikiran yang muatan emosinya besar, yang dinamakan archetype (dinamakan juga dominan, primordial image, imago, mitologic image, atau pola tingkahlaku). Arsetip adalah bentuk tanpa isi, mewakili atau melambangkan peluang munculnya jenis persepsi dan aksi tertentu.
Arsetip yang muncul pada pengalaman awal manusia membentuk pusat kompleks yang mampu menyerap pengalaman lain kepadanya. Misalnya, bayi yang baru lahir telah memiliki predisposisi untuk mengagumi kekuatan atau hasrat untuk menciptakan dan mengontrolnya. Arsetip ibu menghasilkan gambaran tentang ibu dalam taksadar kolektif yang kemudian diidentifikasikan dengan ibu yang senyatanya. Jadi persepsi bayi terhadap ibunya ditentukan oleh arsetip ibu dan pengalaman nyata bayi tersebut dengan ibunya.
Jung mengidentifikasi berbagai arsetip, yang paling penting dalam membentuk kepribadian dan tingkahlaku adalah; persona, anima-animus, shadow, dan self.
Persona
      Persona adalah kepribadian piblik, aspek-aspek pribadi yang ditunjukkan dunia, atau pendapat public mengenai diri individu sebagai lawan dari kepribadian privat yang berada dibalik wajah sosial.
Persona dibutuhkan untuk survival, membantu diri mengontrol perasaan, fikiran dan tingkahlaku. Tujuannya adalah menciptakan kesan tertentu kepada orang lain dan sering juga menyembunyikan hakekat pribadi yang sebenarnya.
Anima dan Animus
      Manusia pada dasarnya biseks. Begitu pula dalam kepribadian, ada arsetip feminin dalam kepribadian pria, disebut anima, dan arsetip maskulin dalam kepribadian wanita, disebut animus. Arsetip tersebut merupakan produk pengalaman ras manusia.
Anima dan animus menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan cirri lawan jenisnya, sekaligus berperan sebagai gambaran kolektif yang memotivasi masing-masing jenis untuk tertari dan memahami lawan jenisnya.


Shadow
        Bayangan adalah arsetip yang mencerminkan insting kebinatangan yang diwarisi manusia dari evolusi makhluk tingkat rendahnya. Menurut Darwin manusia adalah evolusi dari binatang, dan sifat-sifat kebinatangan tetap ada dalam diri manusi, dalam ujud arsetip shadow atau bayangan. Jadi bayangan adalah sisi binatang dalam kepribadian manusia, arsetip yang sangat kuat dan berpotensi menimbulkan bahaya.
Apabila bayangan dan ego bekerja sama, kekuatan bayangan tersalur dalam tingkahlaku yang berguna, dan dampaknya orang menjalani hidup dengan semangat. Tetapi jika bayangan tidak tersalur dengan baik, kekuatan bayangan menjadi agresi, kekejian yang merusak diri sendiri dan orang lain. Bayangan adalah insting dasar yang menuntut penyesuaian dengan realita berdasarkan pertimbangan untuk menyelamatkan diri (suvival).
Self
      Konsep keutuhan dan kesatuan kepribadian dipandang sangat penting oleh Jung. Self adalah arsetip yang memotivasi perjuangan orang menuju keutuhan. Arsetip self menyatakan diri dalam symbol, seperti lingkaran magis atau mandala di mana self menjadi pusat lingkaran itu.
Self menjadi pusat kepribadian , dikelilingi oleh semua sistem lainnya. Self mengarahkan proses individuasi, melalui self aspek kreativitas dalam ketidaksadaran diubah menjadi disadari dan disalurkan ke aktivitas produktif.
Simbolisasi
      Symbol adalah tanda yang tampak yang mewakili hal lain (yang tidak tampak). Arsetip yang terbenam di dalam taksadar kolektif hanya dapat mengekspresikan diri melalui symbol-simbol.
Symbol beroperasi dalam dua cara. Pertama, dalam bentuk retrospektif, dibimbing oleh insting symbol mungkin secara sederhana menunjukkan impuls yang karena alas an tertentu tidak terpuaskan. Misalnya, dansa mungkin simbolik dari perilaku seks.
       Kedua, dalam bentuk prospektif, dibimbing oleh tujuan akhir kemanusiaan, symbol mengekspresikan kumpulan kebijaksanaan yang telah dicapai, yang dapat diterapkan pada masa yang akan datang. Misalnya, belajar/sekolah mungkin symbol dari harapan dan cita-cita.
Sikap dan Fungsi (Attitude dan Function)
       Ada dua aspek kepribadian yang beroperasi di tingkat sadar dan taksadar, yakni attitude (introversion-ekstroversion) dan function (thinking, feeling, sensing, dan intuiting).
Sikap Introvesi (Introversion) dan Ekstraversi(Extraversion)
        Sikap introversi mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif, memusatkan diri pada dunia dalam dan privat di mana realita hadir dalam bentuk hasil amatan, cenderung menyendiri, pendiam/tidak ramah, bahkan antisocial. Umumnya orang introvertif itu senang introspektif dan sibuk dengan kehidupan internal mereka sendiri.
Sikap ekstraversi mengarahkan pribadi ke pengalaman objektif, memusatkan perhatiannya ke dunia luar alih-alih berfikir mengenai persepsinya, cenderung berinteraksi dengan orang disekitarnya, aktif dan ramah. Orang yang ekstravertif sangat menaruh perhatian mengenai orang lain dan dunia disekitarnya, aktif, santai, tertarik pada dunia luar.
Apabila ego lebih bersifat ekstravert dalam berhubungan dengan dunia luar, maka taksadar pribadi akan bersifat introvert. Sebaliknya kalau ego introvert, maka taksadar pribadinya ekstravert. Hanya sedikit orang yang murni introvert atau murni ekstravert. Umumnya orang memiliki beberapa elemen dari dua sisi itu, artinya manusia umumnya dipengaruhi oleh dunia dalam dan dunia luar secara bersamaan.
Fikiran (Thinking) - Perasaan (Feeling) – Pengindraan (Sensing) – Intuisi (Intuiting)
         Fikiran adalah fungsi intelektual, mencari saling hubungan antar ide untuk memahami alam dunia dan memecahkan masalah. Perasaan adalah fungsi evaluasi, menerima atau menolak ide dan obyek berdasarkan apakah mereka itu membangkitkan perasaan positif atau negatif, member pengalaman subjektif manusia seperti, kenikmaran, rasa sakit, marah, takut, sedih, gembira dan cinta. Fikiran dan perasaan adlah fungsi rasional karena keduanya melibatkan keharusan memutuskan sesuatu; misalnya, apakah du aide saling berhubungan atau tidak (berpikir) atau sesuatu itu menyenangkan atau tidak menyenangkan (perasaan).
          Pengindraan adalah fungsi konseptual atau kenyataan, menghasilkan fakta-fakta kongkrit atau bentuk representasi dunia. Intuisi adalah persepsi secara taksadar atau subliminal, memperoleh kebenaran tanpa melalui fakta yang kongkrit. Pengindraan dan intuisi adalah fungsi nonrasional. Keduanya merespon stimuli, baik yang nyata maupun yang tidak nyata, tidak melalui fikiran atau evaluasi.
          Keempat fungsi itu ada pada setiap orang, biasanya dalam tingkat operasional dan perkembangan yang berbeda. Satu fungsi yang paling berkembang dominan disebut fungsi superior, dibawahnya ada fungsi pelengkap (auxiliary) yang akan mengambil peran superior kalau fungsi yang paling dominan itu kerjanya terganggu. Fungsi yang paling kurang berkembang disebut fungsi inferior, yang direpres menjadi tidak disadari, yang terungkap dalam mimpi dan fantasi.

Tipologi Jung (gabungan Sikap-Fungsi)
         Jung memakai kombinasi sikap dan fungsi ini untuk mendiskripsikan tipe-tipe kepribadian manusia. Dari kombinasi sikap (ekstavers dan introvers) dengan fungsi (fikiran, perasaan, pengindraan, intuisi) akan diperoleh delapan macam tipe manusia, yakni tipe ekstraversi-fikiran, ekstraversi-perasaan, ekstraversi-pengindraan, ekstraversi-intuisi, introversi-fikiran, introversi-perasaan, introversi-pengindraan, dan introversi-intuisi.
Tipologi Jung disajikan dalam ikhtisar dan dibagi dalam 8 tipe manusia.

Sikap
Fungsi
Tipe
Ciri kepribadian
Ekstraversi
Fikiran
Ekstraversi-fikiran
Manusia ilmiah, aktivitas intelektual berdasar data obyektif
Perasaan
Ekstraversi-perasaan
Manusia dramatic, menyatakan emosinya secara terbuka dan cepat berubah
Pengindraan
Ekstraversi-pengindraan
Pemburu kenikmatan, memandang dan menyenangi dunia apa adanya
Intuisi
Ekstraversi-intuisi
Pengusaha, bosan dengan rutinitas, terus menerus menginginkan dunia baru untuk ditaklukkan
Introversi
Fikiran
Introversi-fikiran
Manusia filsuf, penelitian intelektual secara internal
Perasaan
Introversi-perasaan
Penulis kreatif, menyembunyikan perasaan, sering mengalami badai emosional
Pengindraan
Introversi-pengindraan
Seniman, mengalami dunia dengan cara pribadi dan berusaha mengekspresikannya secara pribadi pula
intuisi
Introversi-intuisi
Manusia peramal, sukar mengkomunikasikan intuisinya
Tujuan ideal yang diperjuangkan oleh kepribadian adalah mengembangkan keempat fungsi tersebut dalam tingkat yang sama, sehingga tidak ada yang superior atau inferior.

DINAMIKA KEPRIBADIAN
       Variasi struktur kepribadian yang kompleks membuat elaborasi dinamika kepribadian sukar dibuat formulanya. Akhirnya, Jung mencoba mendekati dinamika itu dari prinsip-prinsip interaksi dan fungsi/tujuan penggunaan energy psikis.
Interaksi antar Struktur Kepribadian
Prinsip Oposisi
         Berbagai sistem, sikap, dan fungsi kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara, saling bertentangan (oppose), saling mendukung (compensate), dan bergabung menjadi satu kesatuan (synthese). Prinsip oposisi paling sering terjadi, karena kepribadian berisi berbagai kecenderungan konflik. Menurut Jung, tegangan (akibat konflik) adalah esensi hidup; tanpa itu tidak ada energy dan tidak ada kepribadian.
Prinsip Kompensasi
          Dipakai untuk menjaga agar kepribadian tidak menjadi neurotik. Umumnya terjadi antara sadar dan taksadar; fungsi yang dominan pada kesadaran dikompensasi oleh hal lain yang direpres. Misalnya kalau sikap sadar mengalami frustasi, sikap taksadar akam mengambil alih. Ketika orang tidak bisa mencapai apa yang dipilihnya, dalam tidur sikap taksadar mengambil alih dan muncul ekspresi mimpi. Arsetip berkompensasi dengan fikiran sadar, anima/animus berkompensasi dengan karakter feminine/maskulin.
Prinsip Penggabungan
            Menurur Jung, kepribadian terus menerus berusaha untuk menyatukan pertentangan-pertentangan yang ada. Berusaha untuk mensintesakan pertentangan untuk mencapai kepribadian yang seimbang dan integral. Integrasi ini hanya sukses dicapai melalui fungsi transenden.
Enerji Psikis
Fungsi Enerji
             Interaksi antar struktur kepribadian membutuhkan enerji. Jung berpendapat bahwa personality adalah sistem yang relative tertutup, bersifat kesatuan yang saling mengisi, terpisah dari sistem enerji lainnya. Berfungsinya kepribadian tergantung kepada bagaimana enerji dipakai. Enerji yang dipakai untuk kepribadian disebut enerji psikis, atau enerji hidup (life energy). Enerji itu tampak dari kekuatan semangat, kemauan dan keinginan, serta berbagai proses seperti mengamati, berfikir dan memperhatikan. Enerji psikis berasal dari pegalaman; melalui pengalaman hidup mengalami perubahan enerji fisik menjadi enerji psikis.
Misalnya, pada waktu tidur orang bernafas dan jantungnya bergerak, itu semua membutuhkan enerji fisik. Namun Jung menyatakan bahwa enerji psikis sebagai konstruk hipotesis, tidak dapat diukursecara langsung. Enerji psikis itu hanya bisa dipahami dari besarnya udaha yang dilakukan pada suatu kegiatan.
Nilai Psikis (Psychic Value)
           Ukuran banyaknya enerji psikis yang tertanam dalam salah satu unsure kepribadian, disebut nilai psikis (psychic value) dari unsure itu. Suatu idea tau perasaan tertentu dikatakan memiliki value yang tinggi kalau idea tau perasaan itu memainkan peran penting dalam mencentuskan dan mengarahkan tingkahlaku.
Misalnya buruh yang bekerja sekedar untuk mendapat gaji, bekerja memakai enerji fisik yang besar tetapi hanya memakai enerji psikis sedikit. Sebaliknya buruh yang bekerja dengan penuh perasaan dan perhatian (karena senang dengan jenis pekerjaannya) dan dengan penuh semangat dan pengabdian (karena senang dengan perlakuan majikannya), memakai enerji yang besar dibarengi dengan enerji psikis yang besar juga.
Nilai psikis suatu idea tau perasaan tidak dapat ditentukan secara absolute, tetapi nilai relatifnya (mana yang lebih kuat dari yang lain) dapat dianalisis. Nilai psikis taksadar harus ditentukan dengan menganalisis “daya konstelasi unsure inti suatu kompleks.” Kekuatan kompleks adalah jumlah kelompok item atau pengalaman yang dapat disimpulkan berhubungan dengan inti kompleks. Menaksir kekuatan kompleks itu dapat dilakuakan dengan metoda observasi dan deduksi, indicator kompleks, dan reaksi emosional.
Menaksir Value Unconscious
METODA
DESKRIPSI
Observasi dan deduksi
Mengamati tingkahlaku dan kesimpulan. Misalnya, diamati ada seorang wanita yang membicarakan ibunya dalam hampir semua percakapan, meniru minat ibunya, meluangkan waktu untuk teman-teman ibunya, memilih membaca buku tentang ibu dan anak; semua pertanda itu mengacu adanya kompleks ibu.
Jika kompleks hanya tampak dalam bentuk tersembunyi, bisa dianalisis elemen tingkahlaku yang terpisah dan disimpulkan secara deduktif penyebab yang melatarbelakanginya. Misalnya, diamati seorang pria yang patuh tetapi juga semaunya sendiri. Orang itu mungkin ingin mengontrol orang lain memakai manipulasi yang lembut, suatu kompleks kekuasaan.
Indicator Kompleks
Mencatat dan meneliti berbagai gangguan tingkahlaku seperti salah ucap atau hambatan ingatan. Memanggil isterinya memakai nama ibunya mungkin ungkapan kompleks ibu. Lupa nama temannya (yang bernama : Maiti) ketika akan mengenalkan teman itu kepada orang lain, karena nama itu mirip dengan bahasa Arab mayat (mait) mungkin dilatarbelakangi oleh kompleks mati.
Reaksi Emosional
Ditunjukkan kepada seseorang senarai kata atau kalimat dan mencatat reaksinya, antara lain waktu reaksinya dan pola respon fisio-logiknya. Respon lambat yang jelas mungkin menandakan bahwa kata itu berasosiasi dan menyentuh kompleks yang disembunyikan respon fisiologi yang tidak umum (misalnya denyut jantung meningkat) mungkin menunjukkan emosi yang meningkat.

Kesamaan (equivalence) dan Keseimbangan (Entropy)
       Enerji psikis bekerja mengikuti hukum termodinamika, yakni prinsip ekuivalen dan prinsip entropi. Prinsip ekuivalen menyatakan, jumlah enerji psikis selalu tetap, hanya distribusinya yang berubah. Jika enerji pada suatu elemen menurun, enerji pada elemen yang lain akan menak. Misalnya, jika perhatian anak kepada orang tuanya menurun, maka perhatiannya kepada teman sebayanya akan naik. Orang yang enerji sadarnya bertambah, enerji taksadarnya akan berkurang.
Prinsip entropi mengemukakan tentang kecenderungan enerji menuju ke keseimbangan. Misalnya, dua benda yang panasnya berveda, manakala bersentuhan maka benda yang lebih panas akan mengalirkan panasnya ke benda yang lebih dingin, sampai temperatur keduanya sama. Jadi apabila dua nilai psikis kekuatannya tidak sama, maka enerji yang lebih tinggi akan mengalir ke enerji yang lebih rendah, sampai terjadi keseimbangan.
Tujuan entropi adalah keseimbangan homeostatik.naik turunnya enerji itu di samping disebabkan oleh perpindahan enerji dari bagian satu ke bagian yang lain (ekuivalen) dan mengalirnya enerji dari yang kuat ke yang lemah (entropi), bisa juga karena penambahan atau pengurangan enerji dari luar, baik dari sistem fisik maupun dari lingkungan.
Hukum umum dari Jung menyatakan bahwa perkembangan hanya satu sisi dari kepribadian akan menimbulkan konflik, sedan tegangan dan perkembangan simultan semua aspek akan menghasilkan harmoni dan kepuasan. Karena bagian/sistem yang lemah akan selalu berusaha untuk menjadi kuat, bagian dari kepribadian yang sangat kuat terus-menerus ditekan oleh bagian lain yang lemah.
Tujuan Penggunaan Enerji
Enerji psikis dipakai untuk dua tujuan utama, memelihara kehidupan (preservation of life) dan pengembangan aktivitas kultural dan spiritual (development of cultural and spiritual activity). Tujuan-tujuan itu diraih melalui gerak progresi (progression) dan atau gerak regresi (regression) :
1.      Progresi adalah gerak maju, berkat keberhasilan ego dasar menyesuaikan tuntutan lingkungan dan kebutuhan taksadar secara memuaskan, enerji akan mendukung gerak progresif dimana kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan disatukan dalam arus yang harmonis.
2.      Regresi adalah gerak mundur dari enerji psikis akibat adanya frustasi, sehingga enerji itu banyak dikuasai atau dipakai di dalam proses taksadar. Regresi tidak selalu buruk, karena gerak mundur itu dapat membantu ego menemukan cara mengatasi hambatan, misalnya regresi itu mungkin dapat mengungkap pengetahuan atau kebijaksanaan yang ada dalam ketidaksadaran sebagai arsetip. Regresi semacam itu bisa muncul dalam bentuk mimpi.
Gerakan yang didukung enerji bukan hanya maju atau mundur. Ketika lingkungan menentang pemuasan kebutuhan instingtif, ego mempunyai dua pilihan pemakaian enerji, yakni sublimasi atau represi.
1.      Sublimasi adalah pengubah tujuan instingtif yang tidak dapat diterima dengan tujuan yang dapat diterima lingkungan. Ini berarti memindahkan energy dari proses instingtif yang kabur menjadi lebih tegas dan mementingkan tujuan cultural dan spiritual.
2.      Represi adalah menekan insting yang tidalk mendapat pnyaluran rasional di lingkungan, tanpa mengganggu ego. Insting itu ditekan ke taksadar, enerji dipakai untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat membuat insting yang ditekan tidak muncul ke kesadaran.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Mekanistik, Purposif, dan Sinkronisitas
Pendekatan Jung untuk menjelaskan peristiwa psikis lebih lengkap dibanding Freud. Pandangan Freud bersifat mekanistik, sedangkan Jung bersifat purposif, yang menjelaskan kejadian sekarang ditentukan oleh tujuan di masa depan. Sedangkan mekanistik mengatakan bahwa peristiwa saat ini disebabkan oleh masa lalu.
Menurut Jung, peristiwa psikis tidak dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat. Dua peristiwa psikis yang saling berhubungan, keduanya tidak dapat ditunjuk mana yang masa lalu dan masa depan karena salah satu tidak menjadi penyebab dari yang lain.

Individuasi dan Transendesi
Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan dalam realisasi diri. Hal ini berarti meminimalkan persona, menyadari anima, menyeimbangkan introversi dan ekstraversi, serta meningkatkan fikiran, perasaan, dan intuisi.realisasi diri umumnya terjadi pada usia pertengahan.

Individuasi
Proses memilah- milah, memerinci aspek kepribadian. Semua aspek harus berkesinambungan agar kepribadian yang terabaikan menjadi pusat resistensi.
Transendensi
Proses mengintegrasikan aspek- aspek dalam suatu sistem secara keseluruhan agar dapat berfungsi dalam satu kesatuan.

Tahap- Tahap Perkembangan
  1. Usia Anak
a.       Tahap anarkis (0-6 tahun)
Ditandai dengan kesadaran yang mungkin ada atau tidak, fase anarkis ini muncul kedalam kesadaran yang tidak dapat dijelaskan secara akurat.
b.      Tahap monarkis (6- 8 tahun)
Perkembangan ego muali nampak, pikiran verbal dan logika dimulai.
c.       Tahap dualistik (8-12 tahun)
Ditandai dengan perubahan ego menjadi obyektif dan subyektif.




  1. Usia Pemuda
Berlangsung pada usia pubertas hingga pertengahan. Ditandai dengan meningkatnya kegiatan, kemandirian, pemahaman bahwa era bebas pada masa kanak- kanak akan menghilang. Kendala yang dihadapi adalah menolak menghadapi masalah kekinian.
  1. Usia Pertengahan
Dimulai usia 35 atau 40 tahun, puncak aktualisasi potensi yang bervariasi. Menurut Jung, orang- orang pada usia ini menganggap nilai- nilai mudanya masih berlaku hingga saat ini. Pada tahap ini, orang membutuhkan nilai spiritual.
  1. Usia Tua
Usia ini dianggap sama seperti usia anak- anak yang belum terbentuk fikiran dan kesadaran ego. Jika usia awal, orang takut akan hidup (kerja apa, pasangan siapa, rumahnya dimana, dan lain sebagainya), justru usia tua takut akan kematian. Ketakutan ini menjadi suatu yang wajar, namun menurut Jung kematian adalah tujuan hidup.

Aplikasi
Tes Asosiasi Kata
Jung bukan orang pertama yang memakai teknik ini, ia hanya menyempurnakan dan mengembangkan tes itu. Tujuan tes ini adalah mengungkap perasaa- perasaan yang bermuatan kompleks. Perlu dilakukan tes ulang agar memperoleh konsistensi jawaban, reaksi- reaksi tersebut menjadi pertanda bahwa stimulus kata itu menyentuh kompleks.
Psikoterapi
Teori Jung tidak banyak berpengaruh pada psikoanalisis, justru nampak pada pendekatan teori Rogers(fenomenologi) dan Maslow(humanistik). Ketika menjalani terapi, klien akan mengalami empat tahapan :
  1. Konfesi
Klien mengeluarkan isi tak sadar yang mengganggunya, dengan memakai obyek disekitarnya sebagai sarana.
  1. Eludikasi
Penyebab timbulnya tingkah laku  yang tidak dikehendaki
  1. Edukasi
Agar klien dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menjawab tantangan- tantangan yang muncul.

  1. Transformasi
Membantu klien untuk membedakan berbagai aspek jiwa, sehingga pasien mampu mengatur aspek- aspek itu dalam harmoni dan merealisasi semua potensinya.

Analisis Mimpi
Mimpi muncul dari dunia tak sadar yang diekspresikan dalam bentuk simbolik. Menurut Freud, mimpi sebagai pemenuhan hasrat. Sedangkan Jung mengatakan bahwa mimpi sebagai usaha spontan mengetahui hal yang tidak diketahui. Tujuan interpretasi mimpimJung adalah mengungkap elemen- elemen yang ada di tak sadar pribadi dan kolektif, dalam kesadaran untuk mempermudah realisasi diri. Ada tiga macam jenis mimpi :
1.      Mimpi besar
Mempunyai makna khas yang menarik bagi semua orang tanpa dapat dijelaskan mengapa bisa menarik. Terjadi ketika ketidaksadaran mengalami gangguan serius, sering diikuti kegagalan ego menangani dunia luar secara memuaskan.
2.      Mimpi tipikal
Mimpi yang umum pada banyak orang, melibatkan arkhetif figural, arsetip peristiwa, dan arsetip obyek.
3.      Mimpi anak- anak
Ingatan tentang mimpi pada masa anak-anak. Bersifat universal, sebagai bukti adanya tak sadar kolektif.
Interpretasi mimpi membutuhkan pemahaman mengenai sifat kesadaran pemimpi. Ada tiga metoda analisis analisis mimpi dari Jung, yaitu :
  1. Amplifikasi
Pengembangan metoda asosiasi bebas, orang diminta merespon kata atau mimpi secara bebas.
  1. Rangkaian mimpi
Mencari hubungan antara bagian- bagian dengan keseluruhan.
  1. Imajinasi aktif
Orang memusatkan perhatiannya pada gambaran mimpi yang mengesankan tetapi tidak dimengerti, atau gambaran visual yang spontan.

Evaluasi
Teori Jung berpengaruh luas, pengaruhnya terhadap psikologi modern tampak pada pengembangan riset asosiasi kata. Teori Jung banyak menyentuh dunia religius, baik memakai pandangan agama untuk memahami kehidupan jiwa manusia, atau sebaliknya memakai pendekatan fenomenologik dari psikologi untuk memahami agama.            






DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: Ummpress.
Pervin, A. L., & Cervone, Danil. (2004). Psikologi Kepribdian, Teori & Penelitian. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar