Sabtu, 29 Oktober 2016

PSIKOLOGI JAWA



Psikologi Jawa

Doktrin Hindhu-Buddha Terhadap Masyarakat Jawa

Sistem kemasyarakatan jawa dibangun di atas pondasi kegotong-royongan, sikap hidup nerimo, ketentraman batin, patuh terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan hidup selaras dengan alam.

Doktrin Hindu yang terkandung adalah Tri Hita Karana, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan berarti hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui jalan catur marga. Catur Marga ialah empat cara mengamalkan agama Hindu dalam kehidupan dan dalam bermasyarakat.

Bagian-bagian Catur Marga antara lain : 
·       Bhakti Marga : Bhakti atau sembahyang berarti hidup dalam kasih sayang terhadap sesama makhluk.
·       Karma Marga : Melakukan dharma atau kebajikan seperti mendirikan tempat suci dan merawatnya, menolong orang yang kesusahan, melaksanakan kewajiban sebagai makhluk sosial yang dilandasi dengan ikhlas dan rasa tanggung jawab. Pengalaman agama tersebut dilakukan dengan kerja (karma).
·       Jnana Marga : Mengamalkan agama dengan jalan mempelajari, memahami, menghayati, menyebarkan agama dan ilmu pengetahuan modern dalam kehidupan sehari-hari.
·       Raja Marga : Mengamalkan agama dengan melakukan yoga, bersemadi, tapa atau melakukan brata (pengendalian diri) dalam segala hal termasuk upawasa (puasa) dan pengendalian seluruh indra.

Dalam kehidupan orang Jawa, doktrin-doktrin tersebut diwujudkan melalui filosofi narimo ing pangdum (menerima apapun telah diberikan Tuhan). Filosofi tersebut berarti segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima, tetapi harus tetap berusaha dan berdoa. Hindu mengajarkan pula bahwa setiap orang yang lahir telah dibekali dengan potensi masing-masing yang harus dikembangkan selanjutnya dalam kehidupan nyata. Oleh karena semua aspek kehidupan ditentukan oleh Tuhan melalui hukum karma-Nya, maka manusia diharuskan untuk selalu ber-karma (bertindak) sesuai dengan dharma, dan semua karma itu dilakukan sebagai persembahan (yajna) kepada Tuhan.

Hindu mengajarkan bahwa sikap dan etika harus dilakukan berdasarkan tri kaya parisudha, yakni pikiran, perkataan, dan tindakan. Doktrin Hindu tersebut menekankan pada internalisasi nilai etika, bukan sekedar menjadi bungkus saja. Jadi, pikiranlah yang menentukan perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu, pikiran harus diusahakan untuk tidak menginginkan milik orang lain, mengasihi semua makhluk, dan percaya pada hukum karmaphala (prinsip kausalitas). Dalam budi pekerti jawa, hal tersebut diterjemahkan dalam terminologi ojo demen darbeking wong liyo (jangan menginginkan milik orang lain), welas asih marang sesomo (cinta kasih pada sesama), ngunduh wohing pakarti sopo kang nandur bakal ngunduh (bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan hasil, siapa yang menanam pasti akan memetiknya).


A.    Doktrin Islam Terhadap Masyarakat Jawa

Filsafat Hindhu-Buddha telah mempengaruhi filsafat Jawa, namun sesudah Islam masuk, banyak konsep  yang diubah sesuai ajaran Islam. Mirip dengan filsafat Hindhu-Buddha, filsafat jawa juga menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berfikir dan merenungi dirinya dalam rangka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup manusia Jawa. Pemikiran-pemikiran Jawa merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Dalam keadaan demikian, Islam masuk dan menyesuaikan pemahaman itu, bahwa kesempurnaan hidup hanya dapat dicapai dengan taat kepada Allah, dimana Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan dipatuhi. Tatanan agama tersebut berupa syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Ciptoprawiro (1986:28) menyebutkan bahwa para wali pada zaman kerajaan Demak, lebih menekankan ke-Esa-an Tuhan dengan nama Allah. Zaman Demak ini juga didapatkan istilah manunggaling kawula Gusti berkat sifat demokratis Islam dan isi Sahadad, yang juga menyebut Muhammad sebagai hamba, abdi, atau kawula. Gerak kembali manusia kepada Allah digambarkan dalam empat tingkat, yaitu syariat berupa hukum menjalankan rukun Islam, tarikat merupakan jalan menuju Allah, hakikat merupakan kebenaran, dan makrifat merupakan pengetahuan dan manunggal. Ilmu kesempurnaan hidup ditunjukkan oleh Islam bahwa pelaksanaan ilmu Tuhan dalam hidup ada empat hal, yaitu syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat wirid. Syariat wirid dalam menyebut kalimat Lailaha ilallah (tiada Tuhan selain Allah).

Oleh karena kedatangan Islam adalah yang terakhir setelah adanya doktrin hindhu-buddha, maka terjadi sinkretisme dalam masyarakat jawa. Sinkretisme adalah paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham (aliran) yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan, dan ketenangan dalam hidup.

Salah satu perpaduan dari doktrin hindhu-buddha dan Islam begitu popular di kalangan orang jawa adalah Tirakat. Tirakat merupakan kegiatan berpuasa pada hari-hari tertentu dengan cara-cara tertentu. Walaupun puasa merupakan ritual dalam Islam, tetapi orang jawa yang bukan Islam biasanya juga melaksanakan puasa, walaupun tidak melaksanakan syariat yang lain. Inti dari ritual tirakat adalah latihan untuk menjalani kesukaran-kesukaran hidup dan mendapatkan keteguhan iman terhadap Sang Pencipta. Jadi tirakat merupakan ritual keagamaan yang disengaja agar seseorang menjalani kesukaran, kesulitan, dan kesengsaraan. Pemeluk Agami Jawi yang merupakan non-Islam atau Islam kejawen, percaya bahwa ritual ini berpahala dan bermanfaat dalam melatih keteguhan pribadi.
Tirakat ini dalam masyarakat jawa memiliki berbagai jenis di antaranya mutih, siyam, nglowong, ngepel, ngebleng dan patigeni. Mutih berarti seseorang berpantang makan selain nasi putih yang dilakukan pada hari senin dan kamis. Siyam artinya menjalani puasa pada bulan ramadhan sebulan penuh. Nglowong adalah puasa beberapa hari menjelang hari-hari besar Islam. Ngepel artinya membiasakan makan dalam jumlah sedikit, yaitu tidak lebih dari satu genggam tangan selama satu atau dua hari. Ngebleng berarti berpuasa dan menyendiri dalam ruangan tertentu dengan tidak makan atau minum selama tenggang waktu tertentu, seperti 40 hari. Sedangkan patigeni berarti berpuasa di dalam suatu ruangan yang gelap pekat yang tak dapat ditembus cahaya.

Jenis ritual tersebut sangat dekat dengan praktik-praktik yoga dalam Hindu. Praktik yoga ditengarai sebagai benih bagi kemunculan praktik-praktik tapa-brata dan semedi. Tapa brata, seperti disebut di atas merupakan bentuk pendisiplinan diri secara keras dengan berbagai bentuk kegiatan yang sulit seperti puasa, sedangkan semedi merupakan cara pemusatan konsentrasi untuk mencapai penyatuan terhadap Sang Hyang Widhi. Pada intinya, tirakat merupakan latihan laku prihatin bagi seseorang untuk terbiasa menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Dengan praktik prihatin ini, seseorang berharap semakin dekat pada Tuhan.

1.      R.M. Panji Sosrokartono

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada tanggal 10 April 1877. Beliau adalah putra dari R.M Adipati Sosroningrat, bupati Jepara. Setelah tamat dari Eropeche Lagere School di Jepara, kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S di Semarang. Pada tahun 1898 beliau meneruskan sekolahnya di Belanda di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan di Belanda. Setelah mendapatkan gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa. Beliau pernah bekerja sebagai wartawan selama perang dunia I dan setelah perang selesai beliau bekerja sebagai penerjemah. Kemudian beliau tertarik untuk mempelajari Psychometrie dan Psychoteckniek di Perancis. Beliau meninggal pada tanggal 8 Februari 1952 di Bandung.
Beliau dikenal sebagai orang yang benar-benar prihatin akan nasib bangsanya dan memanfaatkan berbagai kearifan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bangsanya yang pada saat itu dijajah bangsa lain.  Contohnya pernyataan beliau yang banyak dianut orang jawa, yaitu: “Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” yang artinya “kaya tanpa harta, kuat tanpa ajimat, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan”

a.      Teori
Panji Sosrokartono menyebut dirinya Mandhor Klungsu. Klungsu artinya cikal bakal pohon kelapa. Apabila manusia diumpamakan sebagai kelapa, maka orang harus mengupas dulu sabutnya untuk ketemu tempurung, perlu mengupas tempurung untuk ketemu klungsunya. Beliau menorehkan tanda alif di rumah beliau di Darussalam Bandung. Alif disini artinya aku, seorang individu manusia yang sadar akan dirinya. Inilah titik awal dimulainya pencarian jati diri manusia. Secara metafisis, dibalik manusia yang menelanjangi topeng dan bungkus dirinya agar menemukan alif-nya. Hal ini bisa terjadi bila seseorang pasrah menyerah total pada Tuhan. Panji Sosrokartono lebih dekat dengan aliran Neo-Platonisme dalam konsep tentang manusia, namun manusia yang bisa kembali pada Tuhan adalah manusia yang eksistensial dalam pandangan Kierkegaard, manusia yang secara hakiki mampu mengendalikan emosi untuk menuju kehidupan yang lebih bermakna. Konsep Alif ini dalam pandangan Barat disebut egoless ego, self, seperti yang ditelaah oleh C.G. Jung.

2. Aliran Candra Jiwa Soenarto

Aliran ini diturunkan dari babon kitab Sasangka Jati oleh Soemantri Hardjoprakosa. Dalam aliran psikologi ini manusia hidup dalam tiga “lingkungan”, yakni alam sejati (sadar), badan halus, dan badan jasmani. Di alam sejati ada suksma kawekas, suksma sejati, dan roh suci. Suksma kawekas adalah “ada” yang tidak berubah, suksma sejati adalah “ada yang berubah”, sedangkan roh suci adalah “ada” manusia dalam badan halus. Ketiganya disebut “Tri Purusa”, dan “Aku” adalah cerminan dari Tri Purusa. Manusia melalui Rahsa Jati dalam berkomunikasi dengan Roh suci, Suksma sejati, dan Suksma kawekas, apabila ia selalu sadar, percaya dan taat pada Tuhan.
Menurut Soenarto, jiwa manusia mempunyai empat kemampuan: Angen-angen yang membuat manusia eling. Cipta yang membawa pangaribaw. Perasaan manusia adalah dasar dari pracaya, sementara nafsu (amarah, supiahh, mutmainah, lauwamah) adalah dasar dari taat. Candra Jiwa Soenarto ini ketika di dunia psikologi modern Indonesia telah berkembang apa yang disebut dengan “Transpersonal Psychology”.

3.      Ajaran Ki Ageng Soerjomentaram
Pada awalnya ajaran Ki Ageng Soerjomentaram diberi nama Kawruh Bagja Sawetah dan kemudian Kawruh Jiwa. Ki Ageng menyatakan bahwa hidup akan mencapai tahap kebahagiaan yang sempurna apabila rasa itu ditata, karena di dunia ini tidak ada yang layak untuk dihindari secara mati-matian atau dikejar secara mati-matian.
Menurut Ki Ageng, ada enam kaidah dalam hidup yang disebut dengan “6 Sa” yaitu: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sapenake,  samesthine, sabenere (sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, seenaknya, semestinya, dan sebenarnya).
Dalam ajaran Ki Ageng Soerjomentaran, ada tiga pokok penting yaitu rasa, aku, dan mawas diri. Rasa adalah kesadaran manusia seutuhnya yang mendorong mekhluk hidup untuk bergerak.  Bergerak dalam hal ini maksudnya adalah untuk kelangsungan hidup.

            Suryomentaram lahir pada tanggal 20 Mei 1892. Suryomentaram adalah anak dari Sultan Hamengku Buwono VII dengan permaisurinya yang bernama Raden Ayu Retnomandaya. Permaisuri tersebut adalah putri dari Patih Danureja VI atau Pangeran Cakraningrat. Putra pertama Retnomandaya ini terlahir sebagai anak ke-55 dari Sultan. Oleh sang ayah, jabang bayi Suryomentaram diberi nama Raden Mas (RM) Kudiarmaji. RM Kudiarmaji tumbuh di lingkungan keraton. Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama dua tahun lebih. BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram. Tahun demi tahun berlalu, sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Meskipun mendapatkan semua fasilitas kepangeranan Pangeran Suryomentaram, ternyata beliau merasakan ada sesuatu yang kurang. Setiap hari Suryomentaram hanya bertemu dengan yang disembah, diminta, diperintah, dimarahi. Suryomentaram merasa tidak puas karena merasa belum pernah bertemu dengan orang yang bisa membuatnya merasa sebagai layaknya manusia normal. Yang ditemui dalam sehari-harinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Suryomentaram merasa masygul dan kecewa sekalipun beliau adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.


Kesimpulan

Karakteristik masyarakat jawa adalah religius, toleran, akomodatif, dan optimistik. Karakteristik seperti ini melahirkan corak, sifat, dan kecenderungan yang khas bagi masyarakat Jawa seperti berikut:
a.       percaya kepada Tuhan Yang Mahaesa sebagai Sangkan Paraning Dumadi (pencipta sekaligus asal kehidupan) dengan segala sifat-Nya.
b.      idealistis, percaya kepada sesuatu yang bersifat immateriil (bukan kebendaan), percaya hal-hal yang bersifat supranatural, serta cenderung ke arah mistikisme.
c.       lebih mengutamakan hakikat daripada segi-segi formal dan ritual.
d.      mengutakaman cinta kasih sebagai landasan pokok hubungan antar manusia.
e.      percaya kepada takdir dan cenderung bersikap pasrah.
f.        bersifat konvergen dan universal.
g.       non-sektarian.
h.      cenderung pada simbolisme.
i.         gotong royong, guyub, rukun, dan damai.
j.        kurang kompetitif dan kurang mengutamakan materi.


Daftar Pustaka


Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Ridwan. 2008. Mistisisme simbolik dalam tradisi islam jawa. P3M STAIN Purwokerto Ibda’. Vol.6(1).

Wibawa, S. 2013. Filsafat jawa seh amongraga dalam serat centhini sumbangannya bagi pendidikan karakter. Yogyakarta: UNY Press.

1 komentar:

  1. Klungsu kok cikal bakal pohon kelapa ta? Klungsu itu kan biji buah asam.

    BalasHapus